Realitarakyat.com – Ketegangan diplomatik sekaligus dagang antara China dan Jepang kembali mencapai titik panas. Beijing secara terbuka mengecam pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, terkait Taiwan yang dianggap merusak fondasi hubungan kedua negara.
Dalam konferensi pers pada Kamis (20/11/2025), Kementerian Perdagangan China menegaskan kerja sama ekonomi dengan Jepang kini menghadapi kerusakan serius. Pernyataan Takaichi di parlemen pada 7 November lalu, yang menyebut kemungkinan respons militer Jepang jika China menyerang Taiwan, dinilai Beijing sebagai langkah berbahaya.
“Komentar keliru Perdana Menteri Takaichi telah merusak dasar politik hubungan China-Jepang dan berdampak besar pada perdagangan bilateral,” ujar juru bicara kementerian, He Yongqian, dikutip Reuters pada Jumat (21/11/20250.
China juga mengancam akan mengambil langkah tegas bila Tokyo tidak menarik ucapannya.
Ketegangan ini membuat Washington ikut bersuara. Duta Besar AS untuk Jepang, George Glass, menegaskan dukungan penuh bagi Tokyo. “Seperti saat larangan impor makanan laut Jepang sebelumnya, Amerika Serikat akan kembali berdiri di sisi sekutu kami,” tulisnya di platform X.
China merupakan pasar ekspor terbesar kedua bagi Jepang setelah AS, dengan nilai mencapai US$125 miliar pada 2024. Ketergantungan ini membuat Jepang rentan jika Beijing benar-benar menutup akses pasar. Sebagai perbandingan, Korea Selatan hanya menyerap ekspor Jepang senilai US$46 miliar.
Meski belum ada kepastian, isu larangan impor hasil laut Jepang kembali mencuat. Sebelumnya, pada 2023, Beijing sempat melarang total impor produk laut Jepang akibat pembuangan air olahan dari PLTN Fukushima ke Samudra Pasifik.
Padahal, hubungan kedua negara sempat menunjukkan tanda perbaikan. Presiden China Xi Jinping dan Takaichi pada KTT APEC di Korea Selatan bulan lalu sepakat membangun hubungan yang “stabil dan konstruktif”. Namun pernyataan terbaru Takaichi membuat arah itu kembali suram.
Industri Jepang pun cemas. Perusahaan Sanwa Fisheries di Hokkaido, yang baru saja mengajukan izin ekspor setelah China membuka kembali pasar produk laut, mengaku kecewa. “Hal-hal yang sudah mulai maju, tiba-tiba mundur lagi. Situasi ini bisa berulang,” kata Presiden perusahaan, Kazuya Yamazaki.
Analis menilai krisis ini tidak mudah diatasi. Menurut Joseph Kraft dari Rorschach Advisory Tokyo, satu-satunya solusi adalah strategi jangka panjang. “Tidak ada jalan keluar cepat. Takaichi tidak akan menarik ucapannya, dan China pun sudah menaikkan level isu ini,” ujarnya.
Kementerian Luar Negeri China bahkan memastikan tidak ada rencana pertemuan antara Perdana Menteri Li Qiang dan Takaichi di sela KTT G20 akhir pekan ini di Afrika Selatan.(Din)







