Kuliah Umum di UI, Wakil Ketua MPR Ibas Tekankan Pentingnya Kebangsaan Progresif di Era Global

Kuliah Umum di UI, Wakil Ketua MPR Ibas Tekankan Pentingnya Kebangsaan Progresif di Era Global
Wakil Ketua MPR RI, Edhie Baskoro Yudhoyono (Ibas) saat menyampaikan kuliah umum di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia. //net

Realitarakyat.com – Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono atau Ibas mendorong lahirnya semangat kebangsaan progresif yang mampu menjembatani ide dan aksi nyata di tengah perubahan global yang cepat.

Pesan itu ia sampaikan saat memberikan kuliah umum di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan (SPPB) Universitas Indonesia, bertajuk “Dari Ide ke Aksi: Refleksi Kebangsaan, Kepemimpinan, dan Tantangan Global”, di Kampus Salemba, Jakarta, Jumat (31/10).

Dalam kuliah umum tersebut, Ibas menegaskan bahwa nasionalisme masa kini harus bersifat terbuka, reflektif, dan ilmiah, bukan sekadar defensif atau simbolik.

“Kebangsaan tidak hanya dibicarakan, tapi dikerjakan,” ujarnya di hadapan para akademisi dan mahasiswa.

Ketua Fraksi Partai Demokrat DPR RI itu menjelaskan bahwa ide kebangsaan harus diterjemahkan menjadi kebijakan publik yang berdampak langsung bagi masyarakat, dengan berlandaskan moral, ilmu pengetahuan, dan kemajuan teknologi.

“Dunia telah berubah, dan tantangan baru seperti krisis energi, pangan, iklim, hingga disrupsi kecerdasan buatan menuntut kita untuk berpikir strategis. Hari ini kita melihat bagaimana disinformasi dan krisis kepercayaan melanda antara negara, rakyat, dan pemimpin,” kata Ibas.

Lulusan Program Doktor IPB University dan Rajaratnam School of International Studies, Nanyang Technological University (NTU), Singapura, itu menyoroti pentingnya kepemimpinan visioner yang berorientasi masa depan (strategic foresight).

“Pemimpin tidak hanya reaktif, tapi antisipatif. Harus inspiratif, bukan instruktif,” tegasnya.

Ibas juga memperkenalkan konsep “Tiga Langkah Indonesia Progresif”, yang meliputi:

  • Kesadaran Baru, dengan membangun cinta tanah air dan berpikir kritis;
  • Dorong Inovasi, menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai instrumen kemandirian;
  • Etika Publik, dengan kepemimpinan berintegritas untuk mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045.

Ia mengutip sosiolog Anthony Giddens yang menyebut bahwa globalisasi bukan menghapuskan negara, melainkan menantang setiap bangsa untuk mendefinisikan dirinya kembali. “Nasionalisme kini harus menatap dunia, bukan menolak dunia,” ujar Dewan Penasihat KADIN itu.

Dalam sesi refleksi, Ibas menantang Universitas Indonesia untuk menjadi pusat pemikiran strategis dan solusi kebangsaan. Ia pun mengajukan tiga pertanyaan kepada sivitas akademika UI:

  • Bagaimana konsep kebangsaan progresif dapat diintegrasikan dalam diplomasi luar negeri Indonesia?
  • Bagaimana menciptakan strategic leaders di ranah diplomasi internasional?
  • Bagaimana kampus dapat menjadi ekosistem digital, moral, dan intelektual dalam politik nasional?

Diskusi berlangsung hangat dan interaktif. Para peserta, dosen, dan mahasiswa memberikan tanggapan positif atas materi yang disampaikan.

Direktur SPPB UI Prof. Dr. Drs. Supriatna, M.Si., M.T. menyampaikan apresiasi kepada Ibas atas gagasan kebangsaan progresif yang menginspirasi. “Pak Ibas memberi semangat kepada para mahasiswa untuk berkontribusi nyata bagi pembangunan bangsa,” ujarnya.

Mahasiswa pascasarjana, Rosabella Izza, Ketua Umum FORMA SPPB UI, juga menyampaikan terima kasih kepada Ibas. “Mungkin ke depan kami bisa bersilaturahmi ke MPR/DPR RI,” ucapnya.

Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh akademik dan praktisi, di antaranya Willy Aditya (Ketua Komisi XIII DPR RI), Aditya Prayitno (pendiri Parameter Politik Indonesia), Farah Savira (Anggota DPRD DKI Jakarta), dan M. Syahroni Rofi’i, Ph.D. (dosen Kajian Ketahanan Nasional UI).

Kegiatan ini diikuti mahasiswa dari berbagai program studi pascasarjana, seperti Kajian Stratejik dan Global, Ilmu Lingkungan, Manajemen Bencana, Kajian Wilayah, Gender, Ketahanan Nasional, hingga Terorisme. (ndi)