Realitarakyat.com – Anggota Komisi VI DPR RI, Rachmat Gobel, menegaskan perlunya reformasi menyeluruh terhadap budaya kerja di BUMN karya. Hal ini ia sampaikan dalam rapat dengar pendapat bersama PT Nindya Karya dan PT Brantas Abipraya di Gedung Nusantara I, Senayan, Senin (17/11/2025).
Menurut Gobel, perusahaan konstruksi milik negara seharusnya mampu menunjukkan kinerja positif setelah lebih dari satu dekade mendapat proteksi pasar dari pemerintah. Namun, kenyataannya banyak BUMN karya justru mencatat kerugian dan menghadapi persoalan struktural.
“Apakah perusahaan ini masih punya masa depan? Kita lihat hampir semua BUMN karya menghadapi masalah,” ujarnya.
Ia menilai akar persoalan bukan hanya pada kesalahan investasi masa lalu, melainkan budaya kerja yang masih bercorak birokratis. Gobel menyoroti pola pikir yang cenderung menghabiskan anggaran ketimbang berorientasi pada efisiensi dan keuntungan.
“Budaya kerja mereka belum mencerminkan perusahaan modern. Hampir sama dengan pola pemerintah: habiskan anggaran, bukan ciptakan profit,” tegasnya.
Selain itu, ia menyoroti lemahnya pengawasan internal, khususnya di bidang keuangan. Menurutnya, peran direktur keuangan seharusnya menjadi pengendali arah perusahaan agar setiap keputusan menghasilkan nilai tambah, bukan justru menggerus keuntungan.
Gobel juga mengkritisi kualitas hasil konstruksi BUMN karya yang dinilai belum memenuhi standar internasional. Ia membandingkan dengan proyek Grand Hyatt yang dibangun kontraktor Korea dan terbukti lebih tahan lama. Sebaliknya, sejumlah proyek BUMN karya dinilai cepat rusak dan kurang memperhatikan aspek lingkungan.
Lebih jauh, ia menilai BUMN karya belum beradaptasi dengan metode konstruksi modern seperti sistem manufaktur dan knock down yang sudah diterapkan di negara lain, termasuk China.
“Kalau ingin bersaing dengan perusahaan kelas dunia seperti Hyundai, BUMN karya harus berani berubah,” katanya.
Politisi Fraksi NasDem itu menegaskan, pengawasan Komisi VI DPR bertujuan mendorong perbaikan menyeluruh. Ia optimistis BUMN karya masih memiliki peluang memperbaiki diri melalui peningkatan profesionalisme dan tata kelola.
Menutup pernyataannya, Gobel menekankan pentingnya standar tinggi dalam industri konstruksi, mengingat pengalamannya bermitra dengan Jepang yang dikenal memiliki kualitas dan efisiensi kelas dunia. Ia meminta manajemen BUMN karya melakukan transformasi nyata agar perusahaan negara mampu menghadirkan konstruksi berkualitas, efisiensi yang lebih kuat, serta budaya kerja yang profesional.(Ess)







