Beginilah Sejarah Penanggalan Masehi: Dari Romawi Kuno Jadi Standar Dunia yang di peringati Setiap malam Tahun Baru

Beginilah Sejarah Penanggalan Masehi: Dari Romawi Kuno Jadi Standar Dunia yang di peringati Setiap malam Tahun Baru

Realitarakyat.com – Menjelang pergantian tahun, masyarakat dunia kembali bersiap menyambut 1 Januari sebagai awal lembaran baru. Tradisi ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan bagian dari sejarah panjang penanggalan Masehi yang kini menjadi standar global.

Sistem kalender Masehi berawal dari Romawi Kuno. Julius Caesar pada tahun 45 SM memperkenalkan Kalender Julian, yang menetapkan satu tahun terdiri dari 365 hari dengan tambahan satu hari setiap empat tahun (tahun kabisat). Reformasi ini membuat penanggalan lebih teratur dibanding sistem sebelumnya.

Perbandingan Kalender Julian vs Gregorian

Aspek Kalender Julian Kalender Gregorian
Tahun biasa 365 hari 365 hari
Tahun kabisat Setiap 4 tahun Setiap 4 tahun, kecuali tahun abad (100, 200, dll) kecuali habis dibagi 400
Selisih dengan matahari ±11 menit/tahun ±26 detik/tahun
Tahun mulai berlaku 46 SM 1582 M

Meski lebih rapi, Kalender Julian masih menyisakan selisih waktu dengan siklus matahari. Pada 1582, Paus Gregorius XIII memperkenalkan Kalender Gregorian yang lebih akurat. Sistem kabisat diperbaiki: tahun yang habis dibagi 100 tidak dihitung kabisat, kecuali jika juga habis dibagi 400. Kalender ini kemudian diadopsi secara bertahap oleh negara-negara Eropa dan akhirnya menjadi acuan internasional.

Penanggalan Masehi dikenal dalam bahasa Latin sebagai Anno Domini (AD), diperkenalkan oleh biarawan Dionysius Exiguus pada abad ke-6. Ia menetapkan perhitungan tahun berdasarkan kelahiran Yesus Kristus. Istilah “Masehi” sendiri berasal dari kata al-Masih dalam bahasa Arab.

Kini, Kalender Gregorian digunakan hampir di seluruh dunia sebagai acuan resmi dalam perdagangan, komunikasi, hingga penelitian ilmiah. Meski begitu, berbagai budaya tetap mempertahankan kalender tradisional mereka, seperti Hijriyah, Jawa, dan Cina, yang berjalan berdampingan dengan kalender Masehi.

“Penanggalan Masehi bukan sekadar sistem waktu, melainkan simbol integrasi peradaban dunia,” ujar seorang sejarawan lokal. “Ia menunjukkan bagaimana tradisi kuno, agama, dan ilmu pengetahuan berpadu membentuk standar global yang kita kenal hari ini.”

Dengan pergantian tahun yang segera tiba, masyarakat di berbagai belahan dunia bersiap menyambut 1 Januari sebagai awal baru. Perayaan ini telah berlangsung lebih dari dua milenium, menjadikan Tahun Baru Masehi sebagai salah satu tradisi paling universal dalam sejarah umat manusia.(Din)