Menteri PU: Pemulihan Bencana Sumatera Butuh 2 Sampai 3 Tahun

Menteri PU Dody Hanggodo
Menteri PU Dody Hanggodo/Net

Realitarakyat.com – Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo menilai proses pemulihan pascabencana banjir dan longsor yang melanda Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh memerlukan waktu yang tidak singkat, yakni sekitar dua hingga tiga tahun.

Ia menyebutkan, pemulihan di ketiga wilayah tersebut berpeluang selesai paling cepat dalam dua tahun. Namun, pemerintah secara realistis menyiapkan skema pemulihan hingga tiga tahun ke depan.

“Paling cepat (pulih) 2 tahun. Itu paling cepat. Tapi di dalam proposal rencana kita ke Bappenas, kita bikin 3 tahun,” kata Dody dalam taklimat media mengenai perkembangan penanganan bencana di Kantor Kementerian PU, Jakarta, Jumat (16/1).

Menurut Dody, lamanya proses pemulihan disebabkan oleh banyaknya infrastruktur yang terdampak bencana, mulai dari jalan, jembatan, hingga sistem sumber daya air.

Sejumlah pekerjaan fisik berskala besar dinilai membutuhkan tahapan panjang dan tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

Ia mencontohkan pembangunan sabo dam dan cekdam (check dam) yang harus dilakukan secara bertahap, penanganan ruas Tarutung–Sibolga yang memerlukan waktu cukup lama, hingga pemulihan Jalan Tol Lembah Anai yang diperkirakan membutuhkan waktu satu hingga dua tahun.

“Jadi ada beberapa pekerjaan fisik yang memang tidak bisa cepat (selesai),” ujarnya.

Dody menegaskan, fokus awal pemerintah saat ini adalah memastikan masyarakat dapat kembali beraktivitas normal dengan membuka akses wilayah yang sebelumnya terisolasi akibat bencana.

“Pokoknya dia (desa) tidak boleh terisolir. Itu dulu yang saya kejar,” tambah Dody.

Seiring dengan selesainya perbaikan jalan dan jembatan nasional, Dody memastikan saat ini tidak ada lagi kabupaten maupun kota yang terputus aksesnya. Pernyataan tersebut didasarkan pada pembaruan kondisi hari ke-52 pascabencana.

Ia juga menyampaikan bahwa seluruh jalan dan jembatan nasional yang terdampak banjir dan longsor telah kembali berfungsi secara fungsional.

Tercatat sebanyak 99 ruas jalan nasional dan 33 jembatan nasional sempat terputus, namun kini seluruhnya sudah dapat dilalui, meskipun sebagian masih bersifat sementara.

Meski akses nasional telah pulih, Dody mengakui tantangan terbesar kini berada pada infrastruktur di tingkat daerah.

“Sekarang kita fokus kepada kecamatan dan desa karena masih ada sekitar hampir 2.000-an jalan, jembatan daerah yang masih putus,” ujarnya.

Secara keseluruhan, jumlah infrastruktur daerah yang terdampak bencana mencapai 2.710 unit. Rinciannya meliputi sekitar 1.900 ruas jalan daerah dan 753 jembatan daerah.

Hingga saat ini, sekitar 72 persen jalan daerah telah kembali dapat digunakan secara fungsional. Sementara itu, penanganan jembatan daerah masih terbatas, dengan tingkat penyelesaian baru mencapai sekitar 12 persen.[prs]