Realitarakyat.com – Pemerintah China mendesak Iran untuk segera memulihkan lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz menyusul anjloknya pasokan minyak mentah global.
Desakan ini disampaikan langsung oleh Menteri Luar Negeri China, Wang Yi, kepada Menlu Iran, Abbas Araghchi, melalui sambungan telepon pada Rabu (15/4/2026), di tengah ancaman krisis energi yang mulai menerjang Tiongkok.
Wang Yi menegaskan bahwa meskipun China menghormati kedaulatan Iran sebagai negara pesisir, keamanan navigasi di jalur internasional tersebut merupakan kepentingan mendesak komunitas global.
Saat ini, jalur yang menyalurkan 20 persen pasokan minyak dan gas dunia itu ditutup efektif oleh Iran sebagai respons atas ketegangan konflik dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
“Kebebasan dan keamanan navigasi di selat internasional ini harus dipastikan. Memulihkan lalu lintas normal di selat ini merupakan seruan bersama dari komunitas internasional,” ujar Wang Yi dalam pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China.
Penutupan selat ini berdampak signifikan terhadap ekonomi Tiongkok. Data bea cukai menunjukkan impor China pada Maret turun 2,8 persen.
Analis dari JLC Network Technology, Han Zhengji, menyebut bahwa upaya diversifikasi pasokan dari Afrika dan Amerika Selatan belum mampu menutupi kekosongan stok akibat gangguan logistik di Timur Tengah.
Blokade ini kembali terjadi setelah Iran membatalkan kesepakatan pembukaan selat yang sebelumnya disetujui saat awal gencatan senjata pada 8 April lalu.
Pihak Teheran menarik komitmen tersebut sebagai bentuk protes atas berlanjutnya serangan Israel terhadap milisi Hizbullah di Lebanon.
Menanggapi situasi tersebut, Beijing menyatakan dukungannya terhadap upaya mempertahankan gencatan senjata dan perundingan damai.
China berkomitmen untuk terus mendorong stabilitas kawasan demi memastikan kelancaran rantai pasok energi global yang stabil. (*)







