Realitarakyat.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X DPR RI mendorong peningkatan kapasitas jurnalisme sains bagi para wartawan di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Langkah ini diambil untuk memperkuat penulisan berita berbasis ilmiah populer sekaligus membendung banjir disinformasi serta tantangan kecerdasan buatan (AI).
Dalam sosialisasi yang digelar bersama Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) NTB di Mataram, Minggu (17/5/2026), media dinilai memiliki peran krusial sebagai agen pengetahuan publik.
Terlebih, hampir seluruh isu publik saat ini, mulai dari teknologi, krisis global, hingga kebijakan pemerintah, selalu bersinggungan dengan data riset dan sains.
“Media saat ini memiliki peran sebagai agen pengetahuan publik di tengah semakin kompleksnya isu berbasis sains dan teknologi,” ujar Peneliti BRIN, Mega Mardita, di Mataram, Minggu (17/5/2026).
Mega menyoroti banyaknya berita sains yang gagal menarik perhatian publik karena terlalu teknis dan dipenuhi jargon ilmiah.
Oleh karena itu, ia memperkenalkan formula dasar jurnalisme sains yang menitikberatkan pada tiga aspek: temuan, dampak, dan unsur manusia, agar hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi manfaat konkret yang mudah dipahami masyarakat.
Selain itu, jurnalis juga diingatkan untuk tidak terjebak dalam kesalahan umum, seperti menyamakan korelasi dengan kausalitas atau terlalu cepat mengutip hasil riset preprint yang belum melewati proses peer review.
Di era perkembangan AI yang membawa risiko manipulasi data seperti deepfake dan halusinasi informasi, wartawan dituntut memiliki kemampuan verifikasi berlapis.
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, mendukung penuh penguatan kapasitas insan pers ini.
Menurutnya, kolaborasi antara BRIN, DPR, dan PWI merupakan langkah strategis agar informasi berbasis riset dapat tersampaikan secara akurat, cepat, dan tidak menimbulkan salah tafsir di tengah masyarakat digital. (*)







