Realitarakyat.com – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen penuhnya terhadap ketahanan pangan nasional. Sebagai kepala negara sekaligus mandataris kedaulatan rakyat, Prabowo menyatakan siap pasang badan dan bertanggung jawab penuh jika sampai ada rakyat Indonesia yang mengalami kelaparan.
Pernyataan berskala besar tersebut disampaikan Presiden saat memberikan sambutan dalam agenda peresmian 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5), yang disiarkan secara daring melalui kanal YouTube Sekretariat Presiden.
“Saya sebagai Presiden yang bertanggung jawab, mandataris kedaulatan rakyat. Saya yang disumpah, saya yang bertanggung jawab. Kalau bangsa ini lapar, saya yang bertanggung jawab,” tegas Prabowo.
Mantan Menteri Pertahanan ini menggarisbawahi bahwa posisinya sebagai pemimpin tertinggi membuat dirinya tidak akan melempar tanggung jawab kepada pihak lain jika krisis pangan sampai menimpa bangsa ini.
Guna mengantisipasi ancaman tersebut, Prabowo mengungkapkan telah menginstruksikan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman beserta jajaran kementerian terkait untuk mengejar target swasembada pangan.
Meski target awal dipatok dalam waktu empat tahun, Prabowo optimistis akselerasi dapat dilakukan sehingga swasembada bisa tercapai jauh lebih cepat, bahkan dalam kurun waktu satu tahun.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Negara memberikan apresiasi tinggi terhadap dedikasi Mentan Amran Sulaiman. Prabowo menceritakan kisah di balik layar ketika dirinya pertama kali mengusulkan nama Amran kepada Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, agar kembali ditarik masuk ke kabinet.
“Saya tidak pernah kenal beliau. Saya tanya dua-tiga pertanyaan, ternyata orang ini oke pemikirannya. Kemudian saya usulkan ke Pak Jokowi, beliau ditarik kembali jadi Menteri Pertanian. The rest is history. Beliau akhirnya berjuang karena menguasai masalah,” kenang Prabowo.
Menurut Presiden, kompetensi Amran tidak perlu diragukan karena memiliki latar belakang yang kuat sebagai pelaku sektor pertanian, menguasai masalah lewat pengalaman menteri periode sebelumnya, serta lahir dari keluarga petani.
Lebih lanjut, Presiden Prabowo sempat menyentil mentalitas sebagian tokoh, pejabat, hingga pelaku usaha dalam negeri yang dinilainya masih memiliki rasa rendah diri (inferiority complex).
Ia menyayangkan sikap yang cenderung mengagungkan produk luar negeri dan menganggap Indonesia sebagai negara yang lemah atau “the soft state”.
Prabowo mengingatkan bahwa memberi makan ratusan juta penduduk bukanlah perkara mudah, sehingga keberhasilan domestik harus diapresiasi dan diperjuangkan secara kolektif.
“Kita berprestasi, kita dihina, kita swasembada pangan. Perjuangan yang tidak ringan. Kita negara ratusan juta, 287 juta rakyat. Menjamin pangan 287 juta orang bukan pekerjaan ringan,” tutup Prabowo.[prs]







