Realitarakyat.com – Presiden RI Prabowo Subianto mengajak negara-negara anggota subkawasan ASEAN untuk mengoptimalkan potensi energi baru terbarukan (EBT) guna membangun ketahanan energi kawasan.
Ajakan tersebut disampaikan dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Khusus Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA) di Cebu, Filipina, Kamis (7/5).
Presiden Prabowo menegaskan bahwa subkawasan memiliki modal besar berupa tenaga air, surya, angin, hingga lahan subur yang melimpah.
Menurutnya, potensi ini harus segera diwujudkan dalam langkah konkret untuk mendukung transisi energi regional.
“Pertanyaannya adalah apakah kita siap untuk bertindak berdasarkan potensi tersebut. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan subregional kita, tetapi juga untuk berkontribusi pada transisi energi ASEAN,” tegas Presiden Prabowo dalam pidatonya, Jumat (8/5).
Dalam forum tersebut, Presiden mendorong beberapa proyek strategis, seperti pengembangan tenaga air di Borneo (Kalimantan), perluasan proyek energi surya di Palawan, serta pemanfaatan energi angin di wilayah pesisir.
Ia juga memaparkan komitmen Indonesia yang tengah membangun Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 GW.
Senada dengan Presiden, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa pertemuan tersebut mengesahkan dokumen BIMP-EAGA Vision (BEV) 2035.
Dokumen ini menjadi kerangka strategis untuk menciptakan kawasan yang lebih tangguh, berkelanjutan, dan kompetitif.
“Hasil dari klaster ini meliputi proyek interkoneksi jaringan listrik, energi terbarukan, hingga elektrifikasi pedesaan. Program ini akan memperkuat kolaborasi sehingga masyarakat di daerah terpencil mampu mengakses energi terjangkau,” ujar Bahlil.
Indonesia sendiri saat ini memegang peran penting sebagai Ketua Power and Energy Infrastructure Cluster (PEIC) periode 2022-2025, sebelum nantinya diserahkan kepada Malaysia untuk periode berikutnya. (*)







