Kuliah Kepresidenan di Dili, Megawati Sebut Hubungan RI-Timor Leste Rekonsiliasi Sejati

Kuliah Kepresidenan di Dili, Megawati Sebut Hubungan RI-Timor Leste Rekonsiliasi Sejati
Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri saat memberi kuliah di Timor Leste/Net

Realitarakyat.com – Presiden ke-5 RI yang juga Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menegaskan bahwa hubungan diplomatik antara Indonesia dan Timor Leste telah berhasil melampaui sekat-sekat konflik masa lalu.

Kedua negara kini dinilai telah menemukan jalan peradaban baru yang kokoh, dengan memegang prinsip mengingat tanpa mendendam dan memaafkan tanpa melupakan.

Pernyataan tersebut disampaikan Megawati saat menyampaikan Kuliah Kepresidenan (Presidential Lecture) bertajuk “Dua Negara Merangkai Cita-Cita Bersama” di Dili, Timor Leste, Kamis (9/7).

Di hadapan Presiden José Ramos-Horta, Perdana Menteri Xanana Gusmão, dan para pejabat tinggi setempat, Megawati menyebut luka sejarah kini telah menjelma menjadi ikatan persaudaraan yang kuat berkat keberanian moral dua negara tetangga yang setara.

Membuka kuliahnya, Megawati mengenang kembali momentum historis 24 tahun lalu, tepatnya tengah malam 20 Mei 2002 di Padang Tasitolu. Saat itu, ia menghadiri langsung upacara restorasi kemerdekaan Timor Leste selaku Presiden RI, sebuah keputusan yang kala itu dipertanyakan banyak pihak dan dianggap sebagai malam perpisahan.

Megawati secara jujur membagikan pergolakan batinnya kala itu yang harus menyaksikan bendera Merah Putih diturunkan. Terlebih, bendera tersebut memiliki arti emosional mendalam karena dijahit pertama kali oleh ibundanya, Ibu Fatmawati. Namun, ia memiliki cara pandang yang berbeda atas peristiwa bersejarah tersebut.

“Selama 24 tahun saya menyimpan rapat jawaban itu. Peristiwa itu bukanlah tragedi perpisahan. Malam itu menjadi saksi lahirnya Timor Leste sebagai saudara Indonesia. Itulah makna rekonsiliasi sejati,” ungkap Megawati.

Dalam kuliahnya yang berlangsung dinamis, Megawati turut memadatkan sejumlah isu krusial untuk masa depan kedua negara. Salah satunya adalah motivasi bagi kaum perempuan Timor Leste untuk berani masuk ke ruang pengambilan keputusan dan politik, karena konstitusi menjamin kesetaraan hak hukum yang sama.

“Tuhan memberikan kekuatan biologis dan mental yang luar biasa kepada perempuan. Perempuan tidak hanya melahirkan anak manusia, tetapi juga melahirkan dan membesarkan bangsa,” ucapnya.

Selain isu emansipasi, Megawati mengingatkan Timor Leste untuk waspada dan mulai merancang regulasi ketat terkait ancaman penyalahgunaan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Ia bahkan menceritakan pengalaman pribadinya di Indonesia yang sempat menjadi korban manipulasi wajah oleh oknum iklan menggunakan teknologi AI tersebut.

Di sektor ekonomi dan penguatan kelembagaan, selaku Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Indonesia, Megawati menawarkan kerja sama riset strategis untuk membangun kawasan pertumbuhan ekonomi bersama di koridor Nusa Tenggara Timur (NTT), Dili, dan Papua. PDI Perjuangan juga membuka pintu kerja sama kepartaian melalui program kaderisasi dan pelatihan kepemimpinan bersama demi menyalurkan sistem manajemen partai berbasis kedisiplinan organisasi.

Menutup kuliah kepresidenannya, Megawati mengingatkan bahwa sejarah tidak membuka jendelanya untuk selamanya. Ia mendorong pelembagaan hubungan persaudaraan ini secara konkret melalui percepatan tuntasnya perjanjian perbatasan yang adil, program pertukaran pendidikan, serta optimalisasi kerja sama di dalam kerangka ASEAN, di mana kini Timor Leste telah berdiri sebagai anggota tetap dengan dukungan penuh dari Indonesia.

“Dari Dili, kota para pejuang, marilah kita kabarkan kepada dunia bahwa meski kini kita hadir sebagai dua negara, namun kita disatukan oleh cita-cita bersama membangun jalan peradaban bagi dunia. Merdeka!” kata Megawati memungkasi.[prs]