BMKG Fokuskan Pemantauan pada Dampak Sebaran Abu Vulkanik dan Potensi Tsunami Anak Krakatau

BMKG Fokuskan Pemantauan pada Dampak Sebaran Abu Vulkanik dan Potensi Tsunami Anak Krakatau
Plh Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani. //ist

Realitarakyat.com – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memfokuskan pemantauan pada dampak ikutan erupsi Gunung Anak Krakatau, khususnya sebaran abu vulkanik yang mengancam jalur penerbangan serta potensi tsunami.

Respon cepat langsung dilakukan melalui rilis informasi publik dan aktivasi sensor pemantauan di Selat Sunda.

Pelaksana Harian (Plh) Direktur Meteorologi Publik BMKG, Ida Pramuwardani, menyampaikan hal tersebut dalam diskusi Dialektika Demokrasi bertema “Waspada Gunung Merapi: Bagaimana Langkah Mitigasinya?” di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (10/9/2026).

Dalam kesempatan itu, ia turut menyampaikan belasungkawa atas hilangnya sejumlah wartawan saat meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau.

Ida memaparkan bahwa pemantauan BMKG berfokus pada dampak sekunder, seperti pergerakan debu vulkanik di berbagai ketinggian—mulai dari lapisan rendah hingga 50.000 kaki—yang sangat membahayakan mesin pesawat terbang.

Sejak peningkatan aktivitas erupsi pada awal September, BMKG langsung mengeluarkan siaran pers, infografis peringatan dini, serta menyebarluaskan informasi melalui media sosial guna menjangkau masyarakat luas di Lampung, Banten, hingga Jawa Barat.

Selain sebaran abu, BMKG juga mengaktifkan pemantauan penuh terhadap potensi tsunami mengingat sejarah erupsi Gunung Anak Krakatau pada tahun 2019.

Sebanyak 20 sensor InaTEWS (Indonesia Tsunami Early Warning System), jaringan sensor seismik, sensor muka air laut, serta radar maritim (High Frequency Radar) di Carita dan Tanjung Lesung dioperasikan secara terus-menerus.

Hasil pemantauan menunjukkan bahwa saat erupsi terjadi, tidak ada peningkatan signifikan pada ketinggian gelombang maupun arus laut. (ndi)