Realitarakyat.com — Iran memperkuat komunikasi dengan China di tengah meningkatnya tekanan Amerika Serikat terhadap Teheran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Menteri Luar Negeri China Wang Yi di Beijing pada Rabu (16/9/2026).
Pertemuan tersebut berlangsung ketika konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel masih memanas. Kunjungan Araghchi ke China juga terjadi menjelang rencana pertemuan Presiden AS Donald Trump dengan Presiden China Xi Jinping di Washington pada akhir September.
Kementerian Luar Negeri China sebelumnya mengonfirmasi bahwa Araghchi akan melakukan kunjungan ke Beijing untuk menggelar pembicaraan dengan Wang Yi.
China selama ini mengambil posisi yang mendorong penghentian konflik melalui jalur diplomasi. Dalam pertemuan dengan Araghchi, Wang menyerukan agar Iran dan AS menahan diri serta kembali membuka ruang perundingan.
Wang juga menekankan pentingnya membuka kembali Selat Hormuz demi menjaga kelancaran transportasi energi dan rantai pasok global.
Sikap China tersebut sejalan dengan pernyataan Xi dalam Konferensi Tingkat Tinggi BRICS di New Delhi. Xi menyerukan agar negara-negara Global South turut berperan dalam mendorong perdamaian di Timur Tengah.
China mengajukan sejumlah prinsip untuk meredakan konflik, antara lain hidup berdampingan secara damai, menghormati kedaulatan negara, mematuhi hukum internasional, serta menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keamanan.
Mantan Menteri Luar Negeri Iran Mohammad Javad Zarif menyambut langkah diplomasi tersebut. Ia menilai inisiatif Xi dapat membuka ruang untuk menurunkan ketegangan.
Namun, sejumlah pengamat di Iran mengingatkan bahwa pernyataan Xi tidak serta-merta berarti China telah menawarkan diri sebagai mediator langsung antara Washington dan Teheran.
Di sisi lain, tekanan ekonomi dan diplomatik AS terhadap Iran terus berlanjut. Washington berupaya mempersempit akses Iran terhadap sistem keuangan internasional serta mengganggu sumber pendapatan yang dinilai mendukung aktivitas militernya.
Departemen Keuangan AS pada Rabu (16/9) menggelar pertemuan dengan sejumlah lembaga keuangan global untuk memperkuat penerapan sanksi terhadap jaringan keuangan Iran. Langkah tersebut merupakan bagian dari operasi yang disebut “Operation Economic Outcast”.
Persoalan program nuklir Iran juga kembali menjadi perhatian. AS bersama sejumlah negara Eropa mendorong agar persoalan Iran dibawa ke Dewan Keamanan PBB melalui mekanisme yang berkaitan dengan pengawasan nuklir.
China dan Rusia sebelumnya menentang langkah tersebut dan memiliki hak veto di Dewan Keamanan PBB.
Di tengah tekanan AS, hubungan ekonomi Beijing dan Teheran tetap berjalan. China merupakan pembeli utama minyak mentah Iran dan tetap mempertahankan kepentingannya di tengah penerapan sanksi AS.
Hubungan tersebut membuat posisi Beijing menjadi penting bagi Teheran ketika akses Iran terhadap pasar dan sistem keuangan internasional menghadapi tekanan.
Pertemuan Araghchi dan Wang juga berlangsung menjelang pertemuan Xi dan Trump. Dengan demikian, isu Iran berpotensi menjadi salah satu persoalan yang ikut muncul dalam agenda pembicaraan kedua pemimpin tersebut.
Di sisi lain, konflik yang melibatkan Iran telah meningkatkan risiko terhadap jalur energi dan pelayaran di kawasan Timur Tengah. Karena itu, China mendorong pembukaan kembali jalur pelayaran dan penyelesaian konflik melalui perundingan.(Arp)







