Realitarakyat.com — Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menuduh negara-negara Eropa berupaya menghambat perundingan untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina. Tuduhan itu disampaikan Lavrov dalam pidatonya pada Sidang Umum ke-81 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Sabtu (26/9/2026) waktu setempat.
Lavrov mengatakan negara-negara Eropa melakukan berbagai upaya untuk menggagalkan proses diplomasi yang disebutnya didukung pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
“Eropa melakukan segala yang bisa dilakukan untuk menggagalkan perundingan damai yang diinginkan pemerintahan Trump,” kata Lavrov, seperti dilaporkan AFP.
Ia juga menegaskan bahwa Moskwa tetap berpegang pada tujuan militernya di Ukraina.
“Tujuan operasi militer khusus akan tercapai, ancaman terhadap keamanan Rusia akan dihilangkan dan kehidupan damai akan kembali. Ini akan terjadi apa pun keadaannya,” ujar Lavrov.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika upaya diplomatik untuk mengakhiri perang masih belum menghasilkan kesepakatan final. Presiden AS Donald Trump sebelumnya kembali menyatakan bahwa kesepakatan untuk mengakhiri konflik Rusia-Ukraina dapat tercapai, sementara pertempuran di lapangan masih berlangsung.
Di tengah berlangsungnya upaya diplomasi, serangan Rusia dan Ukraina dilaporkan kembali menimbulkan korban.
Ukraina melaporkan sedikitnya enam orang tewas dalam serangan Rusia di sejumlah wilayah, termasuk Sumy, Zaporizhzhia, dan Dnipropetrovsk. Sementara Rusia melaporkan empat orang tewas akibat serangan Ukraina di wilayah Krasnodar dan Belgorod.
Pejabat yang ditunjuk Rusia di wilayah Ukraina yang diduduki Moskwa juga melaporkan enam korban tewas lainnya dalam kurun waktu 24 jam.
Perserikatan Bangsa-Bangsa sebelumnya telah memperingatkan mengenai meningkatnya jumlah korban sipil akibat perang yang telah berlangsung selama lebih dari empat tahun.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky juga menuduh Rusia terus meningkatkan eskalasi dan menyerukan agar negara-negara sekutunya memperbesar tekanan terhadap Moskwa.
Sebelum menyampaikan pidato di PBB, Lavrov bertemu Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul di New York. Pertemuan tersebut menjadi pertemuan pertama antara menteri luar negeri Rusia dan Jerman sejak sebelum invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022.
Pertemuan berlangsung di sela-sela Sidang Umum PBB dan dilakukan ketika hubungan Berlin-Moskow masih berada dalam ketegangan tinggi.
Menurut pemerintah Jerman, Wadephul mendesak Rusia menghentikan apa yang disebut Berlin sebagai jalur eskalasi berbahaya terhadap Jerman, Eropa, dan NATO. Jerman juga menegaskan bahwa berbagai insiden keamanan tidak akan mengubah dukungannya terhadap Ukraina.
Pertemuan tersebut berlangsung sekitar 20 menit dan dilakukan tanpa akses media. Pemerintah Rusia menyebut pertemuan itu atas permintaan pihak Jerman.
Dalam pidatonya di PBB, Lavrov juga mengkritik rencana reformasi Dewan Keamanan PBB. Ia menolak kemungkinan penambahan kursi bagi negara-negara Barat, termasuk Jerman dan Jepang, yang menurutnya tengah meningkatkan kemampuan militernya.
Pertukaran pernyataan antara Moskwa dan negara-negara Eropa itu menunjukkan bahwa jalur diplomasi tetap terbuka, tetapi perbedaan pandangan mengenai perang Ukraina dan keamanan Eropa masih menjadi hambatan besar bagi tercapainya kesepakatan.(Din)







