Realitarakyat.com — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan masih enggan bertemu dengan Presiden Serikat Donald Trump di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB di New York.
Krisis kepercayaan serta berlanjutnya sanksi dan ancaman dari Washington menjadi alasan utama Teheran enggan membuka dialog langsung.
Pezeshkian mengungkapkan hal tersebut dalam wawancara pada program Face the Nation di stasiun televisi CBS. Ia menilai pertemuan langsung sulit terwujud selama AS terus menerapkan tekanan ekonomi dan militer terhadap negaranya.
“Selama mereka tidak berhenti melakukan apa yang mereka paksakan kepada kami setiap hari, sulit untuk mempercayai mereka,” ujar Pezeshkian, dikutip Minggu (27/9/2026).
Pezeshkian menyoroti rekam jejak diplomasi AS yang dinilainya sering mengingkari perjanjian tertulis yang telah disepakati bersama. Hal ini menimbulkan atmosfer ketidakpercayaan yang mendalam antara Teheran dan Washington.
“Setiap hari mereka meningkatkan sanksi, mengancam, dan menyerang kami, serta tidak menghormati apa yang telah ditulis. Jadi, jika mereka terlibat pembicaraan, apakah mereka akan benar-benar menindaklanjutinya?” tegasnya.
Sebelumnya, Donald Trump menyatakan keterbukaannya untuk bertemu dengan pejabat Iran saat menghadiri Sidang Majelis Umum PBB ke-81.
Namun di saat yang sama, Trump melontarkan pidato bernada gertakan dengan menyebut memiliki “keputusan besar” antara membuat kesepakatan baru atau menghancurkan Iran.
Menanggapi hal tersebut, Pezeshkian menekankan bahwa persoalan kepercayaan harus diselesaikan terlebih dahulu. Iran menuntut kepastian bahwa AS akan mematuhi setiap poin kesepakatan sebelum pembicaraan tingkat tinggi dapat dilaksanakan.
Di tengah kebuntuan diplomasi ini, Teheran diketahui telah mengajukan proposal kepada Washington terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, meski hingga kini AS belum memberikan tanggapan resmi. (*)







