Realitarakyat.com – Pemerintah Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, telah menetapkan sektor industri kreatif menjadi prioritas pembangunan pemerintah daerah, karena memberikan kontribusi bagi peningkatan perekonomian masyarakat.
Bupati Bantul Abdul Halim Muslih mengatakan kreativitas dalam menghasilkan produk bernilai ekonomi sudah menjadi jalan penghidupan masyarakat Bantul sejak ratusan tahun lalu, sehingga mampu memberikan kontribusi dalam produk domestik regional bruto (PDRB) Bantul.
“Maka, tidak ada keraguan bagi kita setelah melihat potensi sumber daya manusia kreatif warga Bantul yang terbukti mampu mewarnai PDRB kita, maka sektor industri kreatif ini akan terus menjadi prioritas pembangunan kita, karena telah menghidupi puluhan ribu, bahkan ratusan ribu warga Bantul,” katanya, Jumat (28/7).
Bupati mengatakan jika melihat tren kontribusi sektor industri terutama industri kreatif di Bantul itu tidak menurun bahkan terus menaik dan hingga saat ini telah melampaui sektor pertanian yang juga menghidupi puluhan ribu warga Bantul.
“Lima tahun lalu PDRB Kabupaten Bantul ranking satu itu selalu didominasi oleh sektor pertanian, baru kurang lebih empat atau tiga tahun yang lalu sektor industri itu menyalip, melampaui sektor pertanian walaupun sektor pertanian juga tetap naik volumenya,” katanya.
Lebih lanjut, dia mengatakan sentra industri kreatif untuk kerajinan bambu di Munthuk Dlingo itu akan berakhir, setelah Bantul kehabisan bambu, dulu juga pernah dikhawatirkan sentra industri gerabah di Kasongan itu juga akan berakhir dan gulung tikar karena sudah kehabisan tanah liat.
Selain itu, kata dia, Bantul pernah mengkhawatirkan setelah kayu jati di sekitar Dlingo, Pleret itu semakin menipis jumlahnya membuat para pengusaha mebel dan para pelaku ekonomi kreatif di Kabupaten Bantul itu selesai.
“Tetapi, ternyata kekhawatiran itu tidak pernah terwujud, bahkan tiga tahun terakhir ini ekspor industri dari Kabupaten Bantul itu telah mencapai sebuah angka yang cukup mengagetkan kita, kurang lebih Rp9 triliun menurut data Badan Pusat Statistik (BPS),” katanya.
Menurut dia, bambu sebagai bahan baku kerajinan, Bantul tidak mempunyainya, untuk enceng gondok, Bantul juga bukan penghasil, kemudian serat abata juga tidak punya, begitu juga kulit dan tanah liat, Bantul tidak memiliki.
“Oleh karena itu, hal yang perlu digarisbawahi secara tebal-tebal adalah bahwa ternyata sejak dulu masyarakat Bantul itu hidup dengan bertumpu pada kreativitas, bukan kepada sumber daya alam,” katanya.







