Perubahan Iklim Berdampak ke Banyaknya Penyakit!

Suhu Udara, Hidup Sehat, Krisis Iklim
Polusi udara Jakarta. //NET
Realitarakyat.com – Kenaikan suhu karena perubahan iklim menyebabkan lebih banyak penyakit yang ditularkan oleh hewan. Sehingga, penyakit musiman yang lebih lama seperti halnya flu bisa terjadi.

Terlebih, kenaikan suhu juga bisa memicu peningkatan yang signifikan berbagai risiko yang berdampak pada kesehatan karena dampak dari perubahan iklim itu.

Risiko dari perubahan iklim itu di antaranya dari efek radiasi ultraviolet matahari, perubahan penyakit terkait kualitas makanan dan air, perantara penyakit menular dan penularannya, penyakit yang berasal dari hewan, dan masalah kesehatan mental.

Ahli dari Fakultas Kedokteran Universitas Adnan Menderes menyoroti potensi munculnya penyakit baru karena adanya perubahan iklim ini.

Suhu tubuh rata-rata manusia berkisar antara 36,1-37,8 derajat celsius, dengan mekanisme seperti berkeringat dan perpindahan panas untuk mempertahankannya.

Peningkatan suhu memberikan tekanan pada jantung dan pembuluh darah, menyebabkan hilangnya cairan pada jaringan dan sel, serta memengaruhi fungsi ginjal, katanya.

Keadaan darurat seperti penurunan tekanan darah dan pingsan mendadak karena panas, dan menekankan potensi perkembangan sindrom metabolik dan gangguan keseimbangan organ saat stres.

Kehilangan panas dan cairan dalam waktu lama dapat membuat seseorang tidak bisa bergerak dan menyebabkan kematian.

Sementara, gelombang panas yang tiba-tiba juga dapat menyebabkan masalah kesehatan mental, kekerasan, dan perilaku tidak aman.

Suhu sekitar 37 derajat celsius juga bisa berdampak kepada lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan bakteri secara cepat, sehingga tubuh lebih rentan terhadap kondisi yang tidak higienis dan meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui makanan dan air.

Peristiwa yang disebabkan oleh perubahan iklim seperti banjir dan pemadaman listrik, juga memperburuk penyakit yang disebabkan oleh air dan makanan, serta meningkatkan kasus keracunan makanan.

Pada hewan yang menularkan penyakit dan infeksi baru akibat perubahan iklim, Kiraz menyebutkan peningkatan penyakit seperti arbovirus, demam berdarah, demam Chikungunya, dan demam berdarah Krimea-Kongo.

Karena itu, pentingnya untuk tidak mengabaikan dampak perubahan iklim terhadap penyakit seperti alergi dan asma.

Kejadian polusi udara, banjir, kebakaran hutan, dan badai debu dapat mengubah struktur serbuk sari serta meningkatkan faktor penyebab penyakit.

Hal itu meningkatkan frekuensi penyakit seperti asma, rinosinusitis, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), dan infeksi saluran pernapasan akibat musim serbuk sari yang berkepanjangan.

Seperti data yang dikutip dari BMKG, bakal terjadi banyak dinamika atmosfer dasarian III Maret 2024. Baca lebih banyak data, klik disini.