Iblis! Netanyahu Sebut Serangan Tentara Israel yang Hanguskan 45 Anak-anak dan Pengungsi Adalah Kecelakaan, Perang di Gaza Tetap Lanjut

Netanyahu
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. //Net

Realitarakyat.com – Tentara Israel membuat serangan yang menewaskan dan menghanguskan 45 orang, termasuk anak-anak dan perempuan.

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu hanya menyebut peristiwa itu sebagai “kecelakaan yang tragis.”

Perdana Menteri Israel, Banjamin Netanyahu membela tentaranya yang sedang menargetkan anggota Hamas di Rafah.

Meski begitu, Perdana Menteri Israel, Banjamin Netanyahu, bersumpah untuk tetap lanjutkan perang di Gaza meskipun kecaman internasional dialamatkan kepadanya.

“Terlepas dari upaya kami untuk tidak melukai mereka, terjadi kecelakaan yang tragis. Kami sedang menyelidiki insiden tersebut. Saya tidak berniat untuk mengakhiri perang sebelum semua tujuan tercapai,” kata Netanyahu saat berbicara di Knesset atau parlemennya Israel.

Sedikitnya 45 orang, sebagian besar perempuan dan anak-anak, tewas dalam keadaan hangus dan hampir 250 lainnya terluka dalam serangan Israel di sebuah kamp pengungsi di Rafah pada hari Minggu 28 Mei 2024.

Serangan tersebut terjadi di dekat pangkalan logistik Badan PBB untuk Pengungsi Palestina (UNRWA) di Tal al-Sultan, menurut kantor media pemerintah Gaza.

Tentara Israel, dilansir Anadolu, sebelumnya telah mengidentifikasi kamp yang dibomnya di Rafah sebagai “berada di dalam zona aman di mana para pengungsi didesak untuk pergi.”

Seorang juru bicara pemerintah Israel mengklaim pada Senin pagi bahwa penyelidikan awal menunjukkan bahwa warga sipil Palestina terbunuh oleh kebakaran yang terjadi di Rafah setelah serangan Israel.

Serangan tersebut telah memicu gelombang kecaman dari seluruh dunia di tengah-tengah tuduhan bahwa Israel telah menentang seruan untuk menghentikan serangan mematikannya di Jalur Gaza.

Israel telah menewaskan lebih dari 36.000 warga Palestina di daerah kantong yang terkepung itu sejak serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober tahun lalu, yang menewaskan sekitar 1.200 orang.

Kampanye militer telah mengubah sebagian besar daerah kantong berpenduduk 2,3 juta jiwa itu menjadi reruntuhan, membuat sebagian besar warga sipil kehilangan tempat tinggal dan berisiko mengalami kelaparan.

Serangan ini terjadi meskipun ada keputusan Mahkamah Internasional (ICJ) yang memerintahkan Israel untuk menghentikan serangannya di Rafah, di mana lebih dari satu juta orang Palestina mencari perlindungan dari perang sebelum diserbu pada tanggal 6 Mei.***