Realitarakyat.com – Pemerintah diminta segera mengantisipasi ancaman gempa besar atau Megathrust di Indonesia.
Desakan terhadap pemerintah untuk mengantisipasi ancaman megathrust tersebut berasal dari Pengamat Tata Kota Universitas Trisakti, Nirwono Yoga.
Antisipasi terhadap megathrust tersebut, menurut Nirwono, sebagai antisipasi untuk memperkecil dampak kerusakan maupun korban jiwa akibat bencana gempa yang bisa terjadi sewaktu-waktu.
“BMKG menyebut tidak ada yang bisa memastikan kapan gempa itu akan terjadi. Jadi kita harus siap terhadap kemungkinan gempa besar yang bisa mencapai 7-9 SR,” ujar Norwono Yoga, Minggu 18 Agustus 2024.
Langkah antisipasi yang bisa dilakukan yaitu dengan memastikan jalur gempa yang berpotensi terjadi. Hal ini akan berpengaruh terhadap upaya selanjutnya yang bisa dilakukan untuk meminimalisir jatuhnya korban jiwa.
“Misalnya di Jakarta, dipastikan dulu jalur gempanya atau sesarnya melewati kawasan mana saja. Terutama di wilayah yang padat penduduk dan banyak gedung bertingkatnya, seperti di Sudirman-Thamrin, MT Haryono, Ancol dan TB Simatupang,” kata Nirwono.
Setelah mengetahui jalur gempanya, kawasan-kawasan tersebut dipetakan menjadi beberapa zona. Zona hijau adalah kawasan yang aman dari gempa, zona kuning memiliki resiko sedang dan zona oranye atau merah merupakan kawasan yang rawan gempa.
“Informasi ini harus segera dipublikasikan kepada pemilik gedung bertingkat atau penyewa gedung, masuk kategori mana. Agar mereka bisa mengantisipasi lebih dini,” kata Nirwono.
Dirinya juga menekankan pentingnya dilakukan audit terhadap gedung bertingkat di Jakarta. “Gedung-gedung bertingkat secara umum dirancang untuk 20 tahunan,” katanya.
“Setelah itu perlu dilakukan audit kondisi terkini bangunan. Seiring bertambahnya usia gedung, maka akan berkurang juga kualitas bangunannya,” ujar Nirwono, menambahkan.
Seperti diketahui, BMKG memberikan peringatan terkait potensi gempa Megathrust di Indonesia. Terutama pasca terjadinya gempa Megathrust Nankai yang terjadi di Jepang pada Kamis (8/8/2024).
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono menyebut setidaknya ada dua segmen Megathrust di Indoensia yang perlu diwaspadai. Yakni Seismic Gap Megathrust Selat Sunda (M8,7) dan Megathrust Mentawai-Siberut (M8,9).***







