Realitarakyat.com – Menyusul pengunduran diri Hasan Nasbi dari jabatan Kepala Kantor Komunikasi Kepresidenan (PCO), wacana mengenai pengganti posisi tersebut terus berkembang. Sejumlah nama mulai diperbincangkan, salah satunya Wakil Kepala Staf Kepresidenan, M. Qodari.
Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Kalimantan Tengah, Muhammad Zainal, menilai bahwa PCO membutuhkan sosok dengan kapasitas komunikasi publik yang kuat serta mampu menjembatani hubungan antara pemerintah pusat dan masyarakat di berbagai wilayah, termasuk daerah.
“Sebagai Ketua PWI sekaligus bagian dari masyarakat Kalimantan Tengah, saya meyakini bahwa kewenangan penuh untuk menentukan siapa yang layak menjadi pembantu Presiden sepenuhnya ada di tangan Presiden. Tentu beliau yang paling memahami siapa sosok yang tepat untuk mendampingi dan membantu menjalankan tugas-tugas pemerintahan,” kata Zainal kepada wartawan, Senin (5/5).
Lebih lanjut, Zainal mengungkapkan pengamatannya terhadap M. Qodari yang dinilai memiliki gaya komunikasi yang efektif dan tepat sasaran.
“Pak Qodari, dari beberapa kali kami berkomunikasi dan juga dari informasi yang kami peroleh melalui media, adalah sosok yang komunikasinya sangat baik. Pesan yang disampaikan mudah dipahami, tidak bertele-tele tapi tetap substansial,” tambahnya.
Menurut Zainal, tantangan komunikasi publik saat ini menuntut seorang Kepala PCO yang tidak hanya memahami isu-isu strategis, tetapi juga mampu merespons dinamika masyarakat secara adaptif dan relevan.
“Beliau salah satu yang cocok menggantikan pejabat sebelumnya yang telah mengundurkan diri,” ujarnya.
Zainal juga menyoroti latar belakang Qodari sebagai pengamat politik dan pemimpin lembaga survei nasional sebagai nilai tambah yang signifikan. Pengalaman tersebut dinilainya dapat memperkuat fungsi PCO dalam menyusun strategi komunikasi yang berbasis data dan persepsi publik.
“Saya yakin Pak Qodari mampu, dan itu tak lepas dari pengalaman panjangnya. Sekian tahun beliau aktif di lembaga survei, tentu itu memberinya kepekaan terhadap masyarakat dan dinamika program-program pemerintah yang direspons publik,” jelasnya.
Zainal berharap, siapa pun yang dipilih oleh Presiden untuk mengisi posisi Kepala PCO nantinya, mampu menjadi figur yang tidak hanya komunikatif, tetapi juga strategis dalam menyampaikan pesan kebijakan kepada masyarakat luas.
“Yang penting, informasi yang disampaikan menarik simpati, bukan malah menimbulkan empati yang salah arah terhadap pemerintah,” katanya.
Ia juga menegaskan pentingnya pendekatan komunikasi yang memperhatikan konteks lokal, termasuk karakteristik dan kebutuhan masyarakat Kalimantan Tengah.
“Jangan asal salur program. Harus disesuaikan dengan masyarakat dan geografis daerah. Kalau itu bisa dilakukan, saya yakin masyarakat akan merasa lebih dekat dengan pemerintah pusat,” tutup Zainal.[prs]







