Realitarakyat.com – Banyak imigran berpendidikan tinggi menimbang meninggalkan Jerman karena negara dengan ekonomi terbesar di Uni Eropa tersebut kesulitan menarik tenaga kerja asing berketerampilan tinggi, demikian hasil penelitian terbaru yang diungkapkan pada hari Rabu (11/6/2025).
Menurut penelitian Institute for Employment Research (IAB), satu dari empat imigran (26%) mempertimbangkan untuk meninggalkan Jerman. Alasan utamanya adalah ketidakpuasan politik, diskriminasi di tempat kerja dan saat berinteraksi dengan pihak berwenang, beban pajak yang tinggi, dan rintangan birokrasi.
Pertimbangan keluarga dan prospek ekonomi yang lebih baik di negara lain juga menjadi faktor pendorong tren ini.
Mayoritas imigran (57% atau sekitar 5,7 juta orang) ingin tinggal di Jerman secara permanen. Sekitar 1,2 juta (12%) berencana untuk tinggal sementara, sedangkan sekitar 3 juta (30%) tidak yakin. Sekitar 2,6 juta orang (26%) menyatakan mempertimbangkan untuk meninggalkan Jerman dalam 12 bulan terakhir, dan sekitar 300.000 orang (3%) telah memiliki rencana emigrasi yang konkret.
“Mereka yang berimigrasi untuk bekerja atau belajar, yang memiliki tingkat pendidikan yang lebih tinggi, keberhasilan ekonomi yang lebih besar, dan integrasi bahasa yang lebih baik, lebih mungkin mempertimbangkan untuk meninggalkan Jerman atau memiliki rencana emigrasi yang konkret,” jelas peneliti IAB Lukas Olbrich. “Mereka adalah orang-orang yang sangat dibutuhkan Jerman untuk tenaga kerja terampil.”
Studi tersebut, seperti dilansir Anadolu, menemukan bahwa sektor-sektor yang padat pengetahuan – terutama TI, jasa keuangan, dan asuransi – adalah yang paling terpengaruh, dengan 30 hingga 39% migran yang disurvei di bidang-bidang ini mengindikasikan bahwa mereka mungkin akan meninggalkan Jerman.
Negara dengan ekonomi terbesar di Uni Eropa ini sedang bergulat dengan populasi yang menua dan kekurangan tenaga kerja yang berkualitas di sektor teknologi informasi, energi terbarukan, konstruksi, dan medis. Kebangkitan partai sayap kanan AfD, yang menjadi partai terbesar kedua di Jerman dengan meraih lebih dari 20% dukungan dalam pemilihan umum bulan Februari lalu, telah meningkatkan kecemasan di kalangan komunitas imigran. ***







