Realitarakyat.com – Kementerian Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan mengintensifkan program Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya 2025. Inisiatif ini diklaim menjadi langkah strategis untuk mendorong hilirisasi talenta seni budaya Indonesia, mengintegrasikannya ke pasar global, serta memperkuat Sumber Daya Manusia (SDM) yang menjadi fokus utama Presiden Prabowo Subianto dalam menyongsong visi Indonesia Emas 2045.
Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra menegaskan bahwa kekayaan seni budaya Indonesia memiliki potensi besar yang perlu dioptimalkan bukan hanya dari sisi kreasi, tetapi juga pemanfaatannya di tingkat global.
“Indonesia memiliki kekayaan seni budaya yang luar biasa, dan kami melihat bahwa sektor ini tidak hanya berkontribusi terhadap ekonomi, tetapi juga menjadi fondasi pembentuk karakter bangsa,” ujar Mahendra usai berdiskusi dengan Wakil Kepala Staf Kepresidenan, M. Qodari, di Gedung Bina Graha, Jakarta, Kamis (25/7).
Menurut Mahendra, strategi utama untuk mengoptimalkan potensi tersebut adalah dengan menjalankan MTN Seni Budaya secara sistematis dan berkelanjutan, yang mencakup aspek hilirisasi. Inisiatif ini selaras dengan perhatian besar Presiden Prabowo terhadap kualitas SDM Indonesia.
“MTN Seni Budaya dirancang untuk menciptakan jalur pembinaan dari hulu ke hilir: dari pendataan, pembibitan, pengembangan, hingga pengenalan talenta di kancah internasional,” jelasnya.
“Dengan pendekatan berbasis ekosistem dan kolaboratif, kami ingin memastikan bahwa setiap talenta memiliki peluang untuk berkembang dan berkontribusi pada visi besar Indonesia Emas 2045, yaitu menjadikan Indonesia sebagai kekuatan global,” tambahnya
Mahendra mengakui salah satu tantangan terbesar saat ini adalah belum adanya talent pool seni budaya yang komprehensif. Untuk itu, pengembangan Sistem Informasi Manajemen Talenta (SIMT) menjadi sangat krusial sebagai fondasi hilirisasi data talenta.
“SIMT akan menjadi pusat data yang menghimpun talenta dari berbagai sumber: festival seni, kegiatan pembibitan, komunitas, sekolah seni, hingga ajang nasional dan internasional,” terang Mahendra.
Ia menambahkan, SIMT bukan sekadar alat pendataan, melainkan infrastruktur strategis. Hal ini diharapkan mampu memastikan keberlanjutan regenerasi dan pengembangan talenta seni budaya Indonesia.
“Para pemangku kepentingan—baik kementerian, lembaga, pemerintah daerah, maupun mitra internasional—akan memiliki rujukan yang valid untuk merancang program pembinaan, pendampingan, maupun promosi talenta,” paparnya.
Dalam pelaksanaannya, MTN Seni Budaya 2025 membagi pembinaan talenta ke dalam tiga tingkatan: bibit, potensial, dan unggul.
“Kami memastikan bahwa setiap tingkat memiliki intervensi yang sesuai: dari MTN Ikon Inspirasi untuk memantik minat dan bakat, MTN Lab untuk penguatan kapasitas, hingga MTN Market dan Presentasi yang membuka akses pasar global,” kata Mahendra.
Kementerian juga telah mempersiapkan kemitraan internasional dengan festival dan lembaga seni dunia. Hal ini krusial untuk aspek hilirisasi.
“Dengan demikian, talenta yang memiliki kapasitas akan dipersiapkan bukan hanya untuk dikenal di dalam negeri, tapi juga diakui secara global melalui proses yang terukur dan pendampingan yang berkelanjutan,” tambahnya.
Program MTN Seni Budaya dirancang secara inklusif dengan menekankan kolaborasi bersama inisiatif publik, komunitas lokal, satuan pendidikan, festival, serta sanggar dan lembaga seni di berbagai wilayah.
“Kami menyadari bahwa ekosistem seni budaya tidak hanya berkembang di kota-kota besar,” ujar Mahendra.
”Program-program ini juga dirancang agar modular dan diselenggarakan di berbagai kabupaten/kota, sehingga menjangkau lebih banyak anak muda di luar Jawa,” jelasnya.
Mahendra menegaskan komitmen untuk memberdayakan berbagai pihak dalam proses pembibitan dan pengembangan talenta, sekaligus memperluas jangkauan pasar bagi karya-karya mereka.
Menyambut Indonesia Emas 2045, Mahendra optimistis MTN Seni Budaya dapat mencetak talenta yang berdaya saing global dan siap untuk dihilirisasikan.
“Target utama kami melalui MTN Seni Budaya adalah mencetak talenta seni budaya Indonesia yang memiliki daya saing global dan mampu menjadi duta budaya bangsa di panggung dunia,” tegasnya.
Secara konkret, Kementerian Kebudayaan menargetkan ribuan talenta bibit dan ratusan talenta potensial hingga unggul akan mengikuti program ini setiap tahun. Mereka akan difasilitasi untuk tampil dalam festival internasional, menjalani residensi dan berbagai bentuk pelatihan, serta masuk dalam katalog talenta nasional.
Mahendra juga menambahkan harapannya agar Peluncuran MTN Seni Budaya 2025 ini dapat dilakukan secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, sebagai bentuk komitmen nyata pemerintah terhadap pengembangan SDM di bidang seni budaya.
“Lebih dari sekadar program, MTN adalah fondasi pembangunan ekosistem seni budaya yang kuat, sehingga Indonesia dapat memberikan kontribusi bermakna terhadap peradaban dunia, sejalan dengan visi besar Indonesia Emas 2045,” tutup Mahendra.[prs]







