Realitarakyat.com – Sekolah Rakyat rintisan tahap 1b dimulai di SRMA 34 Kabupaten Lebak, Banten ditandai dengan pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Selain itu, ada 36 lokasi sebagai titik pertama dimulainya sekolah rakyat yang terdiri dari 100 siswa dan terbagi dalam empat rombongan belajar.
Mereka dengan semangat mengikuti MPLS di Aula SRMA 34.
“Hari ini kita memulai penyelenggaraan Sekolah Rakyat di 37 titik, ini bisa dikatakan tahap berikutnya dari 14 Juli yang lalu, 14 Juli lalu kita memulai 63 titik, sekarang kita memulai di 37 titik di bulan Agustus ini,” kata Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), Jumat (1/8/2025). Selain Lebak, dua Sekolah Rakyat di Kabupaten Ponorogo dan Kota Pasuruan juga memulai MPLS pada hari yang sama.
Minggu depan lima titik lainnya akan menyusul, disusul 29 titik pada 15 Agustus, melengkapi total 100 titik yang telah dimulai sejak Juli dan Agustus. Pada bulan September, 59 titik tambahan akan diluncurkan sehingga total akan ada 159 Sekolah Rakyat pada tahun ajaran 2025/2026.
“Jadi ini (Sekolah Rakyat) adalah gagasan dan program prioritas dari Presiden Prabowo, ini asli dari Pak Presiden, saya hanya pembantunya, kami menteri-menteri ini hanya membantu Presiden melaksanakan apa yang menjadi gagasannya,” ujar Gus Ipul didampingi Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono.
Dalam sambutannya di hadapan Gubernur Banten Andra Soni dan Bupati Lebak Moch. Hasbi Asyidiki Jayabaya, Gus Ipul menyampaikan tiga kunci memahami gagasan Presiden Prabowo tentang Sekolah Rakyat. “Kunci pertama adalah memuliakan wong cilik, memuliakan kaum dhuafa, memuliakan mereka yang belum terbawa dalam proses pembangunan,” katanya menegaskan.
Sekolah Rakyat ditujukan untuk menjangkau kelompok miskin dan miskin ekstrem agar dapat menjadi Generasi Emas Indonesia 2045 melalui pendidikan berkualitas. “Banyak saudara-saudara kita di usia sekolah baik SD, SMP, atau SMA yang putus sekolah, belum sekolah atau tidak sekolah, maupun berpotensi putus sekolah, maka itu Sekolah Rakyat ingin menjangkau yang belum terjangkau,” ucapnya.
Kunci ketiga, kata Gus Ipul, adalah membuat yang tidak mungkin menjadi mungkin, yakni memberikan kesempatan bersekolah bagi anak-anak dari keluarga yang tidak mampu. “Jangan disamakan dengan sekolah-sekolah umum, kalau di tempat lain mungkin pendekatannya adalah tes akademik, tapi di sini pendekatannya adalah mereka dari keluarga yang tidak mampu,” katanya menjelaskan.
Anak-anak yang lulus dari Sekolah Rakyat diharapkan menjadi pribadi yang terdidik, berkarakter, dan memiliki keterampilan. “Itulah anak-anak kita yang berkarakter, dia pintar dan cerdas tapi juga bisa mencintai keluarganya, mencintai orang lain, dan juga mencintai negeri ini,” ujarnya.
Gus Ipul berharap lulusan Sekolah Rakyat ada yang bisa kuliah di luar negeri dan ada pula yang sukses menjadi pengusaha. “Itu target saya pak, saya ingin lulusan Sekolah Rakyat, ada yang kuliah di luar negeri, tapi juga saya ingin lulusan Sekolah Rakyat ada yang bisa menjadi pengusaha sukses,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Gus Ipul menyapa Komalasari, siswa dari Desa Pagelaran, Kecamatan Melimping, yang sempat putus sekolah selama satu tahun. “Karena adanya ketidakmampuan ekonomi dalam rumah tangga orang tua pak,” ucap Komala saat ditanya alasannya putus sekolah.
Gus Ipul menyebut Komala sebagai contoh nyata dari siswa Sekolah Rakyat yang menjadi perhatian Presiden Prabowo. “Inilah bapak Presiden Prabowo kita yang luar biasa ingin mengajak kita menoleh kepada saudara-saudara kita yang seperti ini,” ujarnya.
Bagi Komala, Sekolah Rakyat menjadi harapan untuk mengejar cita-cita dan membahagiakan keluarganya. “Contoh orang semangat ini, luar biasa kayak gini, Istimewa sekali, saya bangga dengan kamu Komala, saya ingin kamu sukses beserta yang lain,” ujar Gus Ipul. ***







