Nilai Tukar Rupiah Ditutup Melemah di Akhir Perdagangan Hari Selasa

Kurs Rupiah
Ilustrasi// ilustrasi

Realitarakyat.com – Pada penutupan perdagangan pasar uang Hari Selasa (14/10/2025), nilai tukar rupiah melemah 0,18 persen atau 30 poin menjadi Rp16.603 per dolar AS, menurut data Bloomberg.

Fluktuasi nilai tukar rupiah tersebut masih dipengaruhi kekhawatiran perang dagang baru antara Presiden Amerika Serikat (AS) dan Cina yang akan melakukan pertemuan akhir bulan ini.

“Donald Trump dan Xi Jinping akan melakukan pertemuan di Korea Selatan akhir bulan ini. Washington dan Beijing akan terus berunding mengenai kemajuan perdagangan lebih lanjut,” kata Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, Selasa (14/10/2025) mengutip pernyataan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent.

Sementara itu, penutupan pemerintah AS sudah memasuki hari ke-13 dan belum ada kepastian akan berakhir. Pelaku pasar juga melihat prospek pemangkasan suku bunga the Fed sebanyak dua kali hingga akhir tahun ini.

“Perangkat CME FedWatch memperkirakan peluang pemangkasan mencapai 97 persen. Fokus pasar kini tertuju pada Ketua the Fed Jerome Powell yang akan hadir dalam Pertemuan Tahunan Asosiasi Ekonomi Bisnis Nasional di Philadelphia,” ujar Ibrahim.

Sementara itu, rilis data Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat yang harusnya dirilis minggu, diundur hingga 24 Oktober. Penundaan rilis data inflasi ini disebabkan karena ‘shutdown’ pemerintahan AS yang masih berlangsung.

Di dalam negeri, sentimen pasar dipengaruhi rilis IMF mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini. IMF merevisi ke atas pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang semula 4,7 persen menjadi 4,8 persen.

Pemerintah Indonesia sendiri optimis pertumbuhan ekonomi akhir tahun bisa melampaui angka 5 persen. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa percaya diri perekonomian Indonesia dapat tumbuh 5,6 persen pada triwulan IV-2025.

Keyakinannya itu disampaikan dalam keterangan pers APBN Kita di Kementerian Keuangan hari ini. Menurut Menkeu, injeksi likuiditas Rp200 triliun dan paket stimulus yang digelontorkan pemerintah, menjadi pemacu pertumbuhan ekonomi. ***