Realitarakyat.com – Siapa yang sesungguhnya memenangkan perang singkat India–Pakistan pada Mei 2025 masih menjadi perdebatan. Baik New Delhi maupun Islamabad sama-sama mengklaim unggul. Namun, laporan terbaru Kongres Amerika Serikat menyebut bahwa pemenang sebenarnya bukan India atau Pakistan, melainkan China.
China Jadi Pemenang Tersembunyi Dalam laporan Komisi Tinjauan Ekonomi dan Keamanan AS–China, Beijing disebut memanfaatkan konflik empat hari itu sebagai ajang uji coba langsung sistem persenjataan modernnya. Hasil uji coba kemudian dipasarkan agresif untuk menekan dominasi senjata Barat.
“China memanfaatkan konflik untuk menguji sekaligus memamerkan kecanggihan senjatanya, relevan dengan ketegangan perbatasan dengan India dan ambisi industri pertahanannya,” tulis laporan tersebut.
Pertempuran Udara Terbesar Sejak 1971 Konflik dipicu serangan teroris di Kashmir yang menewaskan puluhan turis India. India meluncurkan Operasi Sindoor pada 7 Mei dengan serangan rudal ke wilayah Pakistan. Bentrokan udara pun pecah, melibatkan lebih dari 125 jet tempur dari kedua negara.
Pakistan mengklaim menembak jatuh hingga enam jet India, termasuk Rafale, Sukhoi, dan Mirage. India mengakui ada kerugian, tetapi menolak merinci jumlah pesawat. Sebaliknya, India mengklaim menghancurkan 9–10 jet Pakistan, termasuk F-16 buatan AS dan JF-17 buatan China.
Ajang Debut Senjata China Pertempuran ini menjadi panggung debut bagi sistem senjata China seperti jet JF-17 dan J-10C, rudal PL-15, sistem pertahanan HQ-9 dan HQ-16, hingga drone dan satelit BeiDou. Laporan AS menilai konflik itu sebagai “eksperimen lapangan sesungguhnya” bagi teknologi militer Beijing.
Berapa Jet yang Jatuh? Jumlah jet yang jatuh masih simpang siur. Pakistan mengklaim tiga Rafale India berhasil ditembak jatuh. Presiden AS Donald Trump sempat menyebut delapan jet jatuh. Namun laporan Kongres AS terbaru menyebut hanya tiga jet India yang hancur: satu Rafale, satu Sukhoi, dan satu Mirage. Dassault Aviation bahkan menegaskan kerugian Rafale terjadi akibat kegagalan teknis, bukan serangan musuh.
Rafale Jadi Propaganda China Usai konflik, Kedutaan Besar China dilaporkan gencar mempromosikan keberhasilan senjatanya. Klaim bahwa jet buatan mereka menjatuhkan Rafale dijadikan bahan propaganda, meski disertai manipulasi berupa gambar rekayasa AI dan cuplikan video gim.
Intelijen Prancis menyebut China melancarkan kampanye disinformasi untuk menghambat penjualan Rafale dan mendorong jet J-10. Lebih dari 1.000 akun palsu dibuat untuk menyebarkan narasi keunggulan teknologi China.
Dampak Global Kampanye ini sempat membuat Indonesia menunda pembelian Rafale, meski akhirnya tetap melanjutkan pesanan 42 unit dan menandatangani LoI tambahan untuk 24 unit lagi. Sementara itu, Azerbaijan meneken kontrak senilai 4,6 miliar dolar AS untuk membeli 40 unit JF-17 Block III, dan Indonesia juga menandatangani kesepakatan pembelian 42 unit J-10C.
Kesimpulan Laporan AS Laporan Kongres AS menegaskan, perang singkat India–Pakistan memberi keuntungan berlapis bagi Beijing. Dengan mempersenjatai Pakistan, China menjaga India sibuk di perbatasan barat sekaligus menjadikan konflik sebagai ajang uji coba senjata canggih yang memperkuat citra industri pertahanannya.(Din)







