Realitarakyat.com – Anggota Komisi XI DPR RI dari Fraksi PKS, Amin Ak, menilai capaian inflasi rendah di Indonesia saat ini tidak bisa dimaknai secara sederhana sebagai indikator keberhasilan ekonomi semata.
Menurutnya, angka inflasi perlu dibaca secara utuh dengan mempertimbangkan kondisi nyata di tengah masyarakat, khususnya terkait kekuatan daya beli.
“Inflasi yang rendah tentu patut dijaga. Tetapi kalau toko-toko sepi, UMKM lesu, dan masyarakat menahan belanja, maka inflasi rendah itu perlu kita baca sebagai alarm dini, bukan sekadar prestasi,” ujar Amin di Jakarta, Senin (15/12).
Menurut Amin, struktur perekonomian nasional yang sangat bergantung pada konsumsi rumah tangga—yang kontribusinya melebihi 50 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB)—membuat daya beli masyarakat menjadi penentu utama ketahanan ekonomi.
Ia menilai pelemahan konsumsi berpotensi menggerus stabilitas makro dalam jangka menengah.
“Ekonomi yang sehat itu bukan hanya angkanya bagus, tapi juga dirasakan di warung, pasar, dan rumah tangga. Inflasi rendah harus berjalan seiring dengan pendapatan yang kuat dan lapangan kerja yang aman,” jelas Anggota Komisi XI yang membidangi ekonomi dan keuangan.
Ia memaparkan bahwa rendahnya inflasi dapat bersumber dari dua kondisi yang berbeda. Pertama, meningkatnya efisiensi dan produktivitas. Kedua, menurunnya permintaan masyarakat akibat lemahnya daya beli.
Amin menekankan bahwa situasi kedua perlu menjadi perhatian serius para pengambil kebijakan.
Untuk itu, Amin mendorong adanya penguatan koordinasi antara kebijakan moneter dan fiskal agar lebih berorientasi pada sektor riil.
Ia menilai Bank Indonesia perlu terus memastikan kebijakan moneter memberikan ruang yang lebih besar bagi sektor produktif, terutama usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung ekonomi nasional.
Di sisi lain, ia menekankan pentingnya kebijakan fiskal yang secara nyata berdampak pada peningkatan kemampuan belanja masyarakat. Perlindungan terhadap pendapatan dan upah riil pekerja, menurutnya, menjadi faktor krusial agar rumah tangga memiliki rasa aman secara ekonomi dan terdorong untuk meningkatkan konsumsi.
Seluruh kebijakan tersebut, lanjut Amin, harus bermuara pada penciptaan lapangan kerja yang berkualitas dan berkelanjutan sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
“Inflasi rendah akan benar-benar menjadi kabar baik jika masyarakat merasa aman untuk belanja, usaha berani ekspansi, dan pekerja yakin dengan pendapatannya,” katanya.
Ia menegaskan bahwa pandangan kritis yang disampaikannya bukan dimaksudkan untuk meredam optimisme, melainkan sebagai peringatan agar Indonesia tidak terjebak dalam perlambatan ekonomi yang tidak terlihat secara kasat mata.
“Kita ingin pertumbuhan ekonomi yang kuat, berkualitas, dan inklusif. Stabilitas harga adalah fondasi, tapi daya beli rakyat adalah mesinnya. Keduanya harus berjalan bersamaan,” pungkasnya.[prs]







