MPR  

Harga Minyak Sentuh 107 Dolar AS, Eddy Soeparno Ingatkan Risiko Defisit APBN

eddy soeparno
Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno/Net

Realitarakyat.com – Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, mendesak pemerintah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap lonjakan harga minyak mentah dunia akibat eskalasi konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.

Kenaikan harga yang signifikan dinilai berpotensi menjebol asumsi makro dan memperlebar defisit APBN secara drastis.

Saat ini, harga minyak global dilaporkan telah meroket lebih dari 30 persen hingga menyentuh angka 107 dolar AS per barel. Angka ini jauh melampaui asumsi makro APBN yang dipatok pada level 70 dolar AS per barel.

“Dengan harga di atas 100 dolar AS per barel, defisit anggaran yang awalnya ditargetkan 2,68 persen terhadap PDB bisa melonjak melewati ambang 3,6 persen,” ujar Eddy di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Eddy menjelaskan bahwa Indonesia kini harus bersaing ketat dengan negara-negara pengimpor besar seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan untuk mendapatkan pasokan alternatif.

Negara-negara tersebut mulai beralih memburu minyak dari Nigeria, Angola, dan Brasil—wilayah yang juga menjadi sumber pasokan migas Indonesia.

Tantangan kian berat mengingat kebutuhan minyak mentah nasional mencapai 1 juta barel per hari. Tekanan ini diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang membuat biaya impor semakin membengkak.

Sebagai gambaran, pada 2025 Indonesia mengimpor sekitar 17,6 juta ton minyak mentah dan 37,8 juta ton produk petroleum dengan nilai total mencapai 32,8 miliar dolar AS atau setara Rp551 triliun.

“Kebutuhan devisa untuk impor migas otomatis meningkat seiring tingginya harga dan melemahnya kurs. Kita harus mewaspadai gangguan ketersediaan pasokan energi,” tegasnya.

Meski situasi global kian memanas, Eddy menilai pemerintah telah berupaya melakukan diversifikasi sumber pasokan dari berbagai negara untuk menjaga ketahanan energi nasional.

Namun, ia menekankan pentingnya pengawasan terhadap ketahanan fiskal dalam jangka panjang guna memitigasi risiko gangguan distribusi migas global yang sulit diprediksi.[prs]