Realitarakyat.com — Wakil Ketua Komisi XII DPR RI, Sugeng Suparwoto, memperingatkan potensi gangguan rantai pasok energi nasional akibat eskalasi konflik antara Israel-Amerika Serikat dengan Iran di kawasan Teluk.
Sugeng menegaskan pentingnya Indonesia segera memiliki cadangan strategis minyak nasional guna menjaga ketahanan energi di tengah ketidakpastian global.
Saat ini, Indonesia dinilai masih rentan karena hanya mengandalkan cadangan operasional milik PT Pertamina (Persero) yang bersifat korporasi.
“Faktanya kita belum memiliki cadangan strategis nasional. Yang ada saat ini adalah cadangan operasional Pertamina sekitar 21 hari. Kondisi ini tetap rentan,” ujar Sugeng, di Kompleks Parlemen, Senayan, Selasa (10/3/2026).
Sugeng menjelaskan bahwa konsumsi minyak nasional mencapai 1,6 juta barel per hari. Gangguan pada titik krusial seperti Selat Hormuz—yang melintasi 20–22 persen perdagangan minyak global—dapat memicu volatilitas harga yang ekstrem.
Ia mencatat harga minyak dunia sempat melonjak hingga 110 dolar AS per barel akibat faktor perang, jauh di atas asumsi ICP APBN 2026 yang ditetapkan sebesar 70 dolar AS per barel.
Lonjakan harga tersebut berpotensi menekan fiskal secara signifikan. Jika harga tertahan di angka 90 dolar AS per barel, beban subsidi dan kompensasi energi diperkirakan membengkak hingga Rp500–600 triliun dari alokasi awal Rp210 triliun.
“Menaikkan harga BBM adalah opsi terakhir. Yang paling penting adalah menjaga daya beli masyarakat,” tegasnya. Sebagai alternatif, pemerintah didorong melakukan realokasi belanja serta mengoptimalkan penerimaan ekspor komoditas lain seperti nikel dan batu bara.
Meski dibayangi sentimen global, Sugeng memastikan stok BBM dalam negeri menjelang Ramadan dan Idulfitri dalam kondisi aman.
Pertamina telah meningkatkan cadangan stok di terminal penyimpanan hingga 12 persen di atas konsumsi normal untuk memitigasi risiko kelangkaan. (ndi)







