Realitarakyat.com – Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, secara tegas mengingatkan seluruh kadernya untuk menjaga kesolidan partai dan menghindari praktik pemecatan akibat perbedaan pandangan politik.
Hal ini disampaikan Bahlil saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) VI Partai Golkar Provinsi Maluku Utara di Ternate, Senin (13/4).
Bahlil menilai bahwa dinamika dalam pemilihan kepemimpinan adalah hal yang lumrah. Namun, ia menekankan agar perbedaan tersebut tidak berujung pada perpecahan internal organisasi.
“Jangan sampai hanya karena perbedaan dukungan, lalu ada kader yang disingkirkan. Kita ini satu keluarga besar Golkar,” ujar Bahlil dalam keterangannya, Rabu (15/4).
Menteri ESDM ini juga menekankan bahwa Musda bukan sekadar agenda rutin partai. Menurutnya, forum tersebut merupakan momentum krusial untuk mengevaluasi sekaligus mengonsolidasikan kekuatan partai dalam menjawab tantangan zaman.
“Dari forum inilah akan lahir gagasan, strategi dan kepemimpinan yang mampu menjawab tantangan zaman,” tambahnya.
Lebih lanjut, Bahlil mengingatkan bahwa identitas Partai Golkar bersifat inklusif. Ia menegaskan bahwa partai berlogo pohon beringin ini tidak dikuasai oleh segelintir golongan atau dinasti tertentu, melainkan sebagai alat perjuangan kesejahteraan rakyat.
“Partai Golkar dalam sejarahnya tidak dimiliki satu kelompok tertentu atau satu keluarga tertentu, tapi Partai Golkar ini milik seluruh rakyat Indonesia yang mencintai tanah air ini. Oleh karena itu, politik Partai Golkar adalah politik untuk kesejahteraan dengan doktrin karya kekaryaan,” tutur pria kelahiran Banda tersebut.
Dalam Musda tersebut, Alien Mus kembali terpilih secara aklamasi sebagai Ketua DPD Partai Golkar Maluku Utara. Kehadiran jajaran elit DPP—seperti Sekjen Muhammad Sarmuji, Bendum Sari Yuliati, hingga Waketum Wihaji—dinilai menjadi suntikan motivasi bagi kader di daerah.
Menanggapi hasil Musda, Alien Mus mengajak seluruh kader di Maluku Utara untuk segera merapatkan barisan dan meninggalkan perbedaan yang sempat muncul selama proses musyawarah.
“Musda ini adalah sarana memperkuat soliditas dan merumuskan langkah strategis, terutama dalam menghadapi tantangan politik ke depan,” pungkas Alien.[prs]







