Realitarakyat.com — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengonfirmasi bahwa pembahasan mengenai penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) nonsubsidi, seperti Pertamax Series, sudah hampir selesai.
Langkah ini merespons lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
Dalam keterangannya di Kantor Kementerian ESDM, Jumat (17/4/2026), Bahlil menyatakan bahwa pemerintah bersama Pertamina dan badan usaha swasta telah melakukan serangkaian rapat koordinasi.
Penyesuaian ini mengacu pada regulasi harga pasar yang diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 11 Tahun 2022.
“Tinggal kita lihat kapan itu dilakukan penyesuaian. Feeling saya, atas dasar rapat-rapat kami dengan Pertamina maupun badan usaha swasta, sudah hampir selesai,” kata Bahlil.
Sebelumnya, pemerintah melalui instruksi Presiden Prabowo Subianto sempat menahan harga BBM nonsubsidi sejak awal April 2026 meskipun harga minyak dunia jenis Brent dan WTI melambung ke kisaran 90–100 dolar AS per barel.
Padahal, pada Januari 2026, harga minyak dunia masih berada di level rata-rata 64 dolar AS per barel.
Penahanan harga tersebut mengakibatkan terjadinya selisih antara harga jual eceran dengan biaya perolehan minyak.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa untuk sementara waktu, Pertamina menanggung selisih harga tersebut demi menjaga daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian global.
Meski sinyal penyesuaian untuk BBM nonsubsidi kian kuat, Bahlil menegaskan bahwa penetapan harga tetap akan mengikuti formula dasar perhitungan harga jual eceran.
Sementara itu, pemerintah memastikan stok BBM nasional dalam kondisi aman dan meminta masyarakat tidak panik. (*)






