Wabah Ebola Meluas, Uganda Terapkan Larangan Kontak Fisik

Wabah Ebola Meluas, Uganda Terapkan Larangan Kontak Fisik
Ilustrasi wabah Ebola melanda RK Kongo dan Uganda yang oleh WHO disebut sebagai darurat kesehatan. //net

Realitarakyat.com — Pemerintah Uganda melarang masyarakat berjabat tangan dan berpelukan setelah dua kasus Ebola terkonfirmasi di negara tersebut.

Kementerian Kesehatan Uganda melalui Sekretaris Tetap Kementerian Kesehatan Diana Atwine meminta masyarakat mematuhi langkah-langkah pencegahan guna menekan penyebaran virus Ebola yang menular melalui kontak fisik.

“Orang-orang harus berhenti saling bersalaman karena virus ini menyebar lewat kontak fisik,” kata Atwine dalam konferensi pers pada Selasa (19/5).

Selain menghindari kontak fisik, pemerintah Uganda juga mengimbau masyarakat rutin mencuci tangan menggunakan sabun, memakai antiseptik, serta segera melapor ke fasilitas kesehatan apabila mengalami gejala seperti demam, muntah, atau pendarahan.

Dua kasus Ebola di Uganda diketahui berkaitan dengan wabah yang sedang berlangsung di Republik Demokratik Kongo. Wabah tersebut berasal dari strain Bundibugyo yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun obat khusus.

Salah satu pasien di Uganda, seorang pria berusia 59 tahun, dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (14/5), sementara satu pasien lainnya masih menjalani isolasi dan pemantauan ketat.

Menurut data otoritas kesehatan, wabah Ebola di Republik Demokratik Kongo telah menyebabkan sedikitnya 130 orang meninggal dunia dan sekitar 500 orang diduga terinfeksi.

Sejumlah negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Thailand, dan Vietnam, mulai memperketat pengawasan di bandara, rumah sakit, dan pos pemeriksaan perbatasan sebagai langkah antisipasi penyebaran virus. Hingga saat ini belum ditemukan kasus Ebola di ketiga negara tersebut.

World Health Organization atau WHO menetapkan wabah Ebola di Kongo sebagai darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada Sabtu (16/5).

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengaku khawatir terhadap cepatnya penyebaran wabah tersebut.

“Saya sangat prihatin dengan skala dan kecepatan epidemi ini,” ujar Tedros.

Pemerintah Uganda juga memutuskan menunda perayaan Hari Martir pada 3 Juni mendatang karena dikhawatirkan memicu penularan lintas negara. Acara tahunan itu biasanya dihadiri lebih dari satu juta peziarah, termasuk dari wilayah timur Republik Demokratik Kongo.

Otoritas kesehatan Uganda mengkhawatirkan kedatangan peziarah dari Kongo ke Kuil Katolik Para Martir Uganda di Namugongo dapat meningkatkan risiko penyebaran Ebola. (*)