Iran Layangkan Ultimatum ke AS dan Israel jika Serangan di Lebanon Berlanjut

Iran Layangkan Ultimatum ke AS dan Israel jika Serangan di Lebanon Berlanjut
Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi. //net

Realitarakyat.com – Pemerintah Iran melayangkan ultimatum keras kepada Amerika Serikat dan Israel terkait kelanjutan negosiasi damai di kawasan Timur Tengah.

Teheran menegaskan siap mengambil tindakan militer jika serangan udara dan operasi darat Israel terhadap Lebanon tidak segera dihentikan sepenuhnya.

Ketua Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, menyatakan bahwa eskalasi militer yang terus meningkat di Lebanon akan membawa dampak buruk yang nyata bagi posisi pasukan AS dan Israel di kawasan tersebut.

“Jika serangan terhadap Lebanon tidak dihentikan sepenuhnya, konsekuensinya akan sangat serius bagi rezim Zionis dan pasukan AS di kawasan. Mereka sepenuhnya sadar bahwa ini bukan ancaman kosong, dan kami siap memberikan respons militer,” ujar Azizi melalui media sosial X, Selasa (2/6/2026).

Senada dengan Azizi, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan kembali bahwa gencatan senjata di Lebanon merupakan syarat mutlak agar pertukaran pesan diplomasi dengan Washington dapat terus berjalan.

Iran juga menuduh AS telah melanggar kesepakatan menyusul serangan udara semalam yang menyasar fasilitas telekomunikasi di kota pelabuhan Iran bagian selatan.

Insiden tersebut langsung direspons oleh Garda Revolusi Iran dengan meluncurkan serangan balasan ke pangkalan militer AS yang menjadi sumber serangan.

Baqaei menambahkan, prioritas utama Iran saat ini adalah menghentikan perang, sehingga pembahasan mendalam mengenai program nuklir belum dimasukkan ke dalam agenda diplomasi.

Selain gencatan senjata, Iran menuntut pencairan aset-asetnya yang dibekukan di luar negeri akibat sanksi sepihak AS.

Sementara itu, Kepala Negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai blokade angkatan laut yang diterapkan AS sejak 13 April serta intensifikasi serangan di Lebanon menjadi bukti kuat bahwa Washington tidak mematuhi komitmen damai.

“Setiap pilihan memiliki harga dan tagihannya pasti akan datang,” tulis Ghalibaf di media sosial X.

Ketegangan diplomatik ini kian memuncak setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, justru bersumpah akan memperluas operasi militer lebih jauh ke wilayah Lebanon.

Netanyahu bahkan mengeklaim bahwa pasukan Israel telah berhasil menguasai Kastil Beaufort yang terletak di Lebanon selatan. (*)