Realitarakyat.com — Pemerintah China diprediksi akan menolak ancaman sanksi sekunder dari Amerika Serikat (AS) yang menyasar negara-negara mitra dagang Iran.
Penolakan ini berisiko memanaskan hubungan diplomatik Washington dan Beijing serta berpotensi memicu perang dagang berskala besar.
Analis Keamanan Nasional, Alex Plitsas, menyebutkan bahwa pemerintahan Presiden AS Donald Trump tengah menyiapkan sanksi tambahan untuk memutus urat nadi ekonomi Iran dan menekan Teheran agar kembali ke meja perundingan.
Namun, mengingat tingginya ketergantungan China terhadap pasokan minyak dan gas dari Iran, Beijing diyakini tidak akan mematuhi sanksi sepihak tersebut.
“Bukan tidak mungkin kita kembali melihat China menolak langkah tersebut. Hal itu dapat mendorong AS dan China semakin jauh menuju perang dagang, dengan aksi saling balas yang berpotensi membuat China menahan pasokan mineral kritis,” ujar Plitsas, Sabtu (22/8/2026).
Blokade dan sanksi ekonomi dari AS tercatat telah memukul perekonomian Iran yang ditandai dengan lonjakan inflasi.
Meski tekanan bertujuan untuk mengubah arah kebijakan Teheran, hingga saat ini pemerintah Iran belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerah.
Sebaliknya, Iran merespons tekanan tersebut dengan meningkatkan eskalasi, termasuk serangan terhadap sejumlah kapal di Selat Hormuz dalam sepekan terakhir.
Plitsas turut memperingatkan adanya potensi serangan balasan dari Iran yang menyasar infrastruktur minyak dan gas di kawasan Timur Tengah jika sanksi terus ditingkatkan.
Kendati Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf telah menyuarakan kekhawatiran mengenai ancaman krisis pangan rakyat, keputusan strategis negara tidak berada di tangan otoritas sipil.
Keputusan akhir terkait respons geopolitik dan keamanan tetap dikendalikan sepenuhnya oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) dan para pemimpin keamanan tertinggi Iran. (*)







