Realitarakyat.com — Bencana banjir besar yang melumpuhkan ibu kota Thailand, Bangkok, memicu fenomena aksi borong (panic buying) oleh masyarakat.
Warga berbondong-bondong memborong bahan pangan di minimarket dan toko kelontong serta memadati Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) karena khawatir pasokan terputus.
Berdasarkan pantauan di lapangan, komoditas pangan seperti mi instan, makanan beku, dan roti dilaporkan mulai melangka di sejumlah rak toko.
Banyak warga terpaksa menerobos genangan air setinggi pinggang untuk mencapai pasar dan gerai ritel terdekat demi menimbun persediaan makanan.
Kepanikan serupa terjadi di sektor energi. Pengendara kendaraan bermotor memadati SPBU di kawasan Bang Khen untuk mengisi penuh bensin dan solar lantaran khawatir pengiriman BBM terganggu akses jalan yang terendam.
Menanggapi kepanikan tersebut, Gubernur Bangkok Chadchart Sittipunt mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan memastikan pihak berwenang terus memantau stabilitas pasokan bahan pokok.
“Masyarakat tidak perlu panik,” ujar Chadchart mengutip AFP, Minggu (27/9/2026).
Chadchart melaporkan, banjir yang disebabkan oleh curah hujan ekstrem mencapai hampir 300 milimeter dalam kurun 48 jam ini telah merendam sedikitnya 13 jalan utama kota.
Hingga saat ini, sebanyak 980 warga telah dievakuasi ke tempat penampungan sementara, sementara 36 pasien berstatus sakit dipindahkan ke rumah sakit.
Guna mencegah dampak krisis pangan yang meluas, Menteri Perdagangan Thailand Suphajee Suthumpun telah menginstruksikan jajarannya untuk menjamin ketersediaan barang dan memantau pergerakan harga di pasar.
Pemerintah secara tegas melarang para pedagang memanfaatkan situasi bencana untuk menaikkan harga secara tidak wajar.
Masyarakat yang menemukan indikasi penimbunan, kelangkaan, maupun permainan harga diimbau untuk segera melapor ke Departemen Perdagangan Dalam Negeri Thailand melalui hotline resmi 1569. (*)







