Realitarakyat.com – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengonfirmasi bahwa inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) pada Agustus 2026 masih tetap terjaga secara aman di dalam sasaran target pemerintah.
Kenaikan inflasi IHK sebesar 3,19 persen secara tahunan (year on year) tercatat sedikit meningkat jika dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang berada di angka 2,88 persen.
Peningkatan laju inflasi tersebut dipicu oleh lonjakan harga pada kelompok bahan makanan bergejolak (volatile food) yang menyentuh angka 4,06 persen.
Komoditas pangan utama seperti daging ayam ras, cabai rawit, serta beras menjadi penyumbang utama kenaikan harga di pasar tradisional maupun modern.
“Inflasi IHK pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen, lebih tinggi dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya sebesar 2,88 persen,” kata Gubernur BI dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) di Jakarta, Rabu (23/9/2026).
“Kenaikan ini terutama dipengaruhi oleh kelompok volatile food, terutama dari komoditas daging ayam ras, cabai rawit, dan beras,” jelas Destry.
Di sisi lain, inflasi kelompok harga yang diatur pemerintah (administered prices) justru mencatatkan penurunan menjadi 3,32 persen berkat penyesuaian harga avtur serta BBM nonsubsidi.
Sementara itu, kestabilan inflasi inti di level 2,92 persen berhasil dipertahankan sebagai dampak positif dari konsistensi bauran kebijakan moneter yang diterapkan Bank Indonesia.
Guna mengantisipasi ketidakpastian harga di masa mendatang, Bank Indonesia berkomitmen memperkuat langkah intervensi moneter demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Pemetaan target inflasi nasional disiapkan berada pada kisaran terkendali sebesar 2,5 plus minus 1 persen untuk periode 2026 hingga 2027.
“Bank Indonesia terus memperkuat sinergi dengan pemerintah melalui Tim Pengendalian Inflasi dalam implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS),” kata Destry.
Sinergi yang erat antara bank sentral dan pemerintah daerah diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika iklim dan pasokan pangan.
Baginya, langkah pencegahan yang terukur diposisikan sebagai kunci utama untuk membendung potensi lonjakan harga sembako.
“Langkah ini krusial untuk mengendalikan harga pangan sekaligus mengantisipasi dampak gangguan cuaca El Nino,” pungkas Destry.[prs]







