Anis Byarwati: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Minus Tak Bisa Terelakkan

Realitarakyat.com – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi minus sepanjang tahun untuk pertama kali sejak 1998 setelah ekonomi Indonesia pada 2020 terkontraksi 2,07 persen (yoy).

Menanggapi hal tersebut, anggota Komisi XI DPR RI, Anis Byarwati mengungkapkan jika hal tersebut memang tidak bisa terelakkan. Pasalnya, belanja masyarakat masih rendah.

“Disisi lain baik investasi maupun ekspor masih tumbuh negatif dan menunggu sinyal pemulihan ekonomi global. Sementara belanja pemerintah tumbuh positif tetapi belum optimal, sehingga tidak bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Anis saat dihubungi realitarakyat.com, Jumat (5/2/2021).

Lebih lanjut, politikus PKS ini menjelaskan, saat ini juga sulit untuk mendorong konsumsi dan investasi kembali normal ditengah masih mewabahnya Covid-19. Sehingga, fokus pemerintah dan seluruh otoritas, lanjut Anis, adalah mempercepat penanggulangan wabah.

“Jadi fokus utama ya membantu masyarakat terdampak dan membantu dunia usaha bertahan ditengah kondisi yang masih tidak normal ini,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi minus sepanjang tahun untuk pertama kali sejak 1998 setelah ekonomi Indonesia pada 2020 terkontraksi 2,07 persen (yoy).

“Kalau 1998 karena krisis moneter, pada 2020 ekonomi mengalami kontraksi karena pandemi COVID-19,” kata Kepala BPS, Suhariyanto, dalam jumpa pers, di Jakarta, Jumat (5/2/2021).

Suhariyanto mengatakan sebagian besar perlambatan ekonomi di 2020 ini juga dialami negara-negara lain di dunia karena imbas pandemi COVID-19 yang sangat masif.

Ia memaparkan data statistik terbaru yang memperlihatkan pertumbuhan ekonomi negatif di berbagai negara seperti Amerika Serikat yang minus 3,5 persen, Korea Selatan minus satu persen, dan Uni Eropa minus 6,4 persen.

“Banyak negara-negara yang mengalami kontraksi, pengecualian hanya di China dan Vietnam yang tumbuh positif masing-masing 2,3 persen dan 2,9 persen,” kata Suhariyanto.[prs]