Realitarakyat.com – Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra meminta semua pihak untuk tidak mencoba mengadu domba Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Dia menegaskan bahwa SBY dan Mega adalah putra-putri terbaik Indonesia yang pernah mendapatkan kepercayaan menjadi Presiden. Menurutnya, SBY dan Mega sepantasnya ditempatkan di posisi terhormat, bukan malah diadu domba.
“Tidak menebar tuduhan tidak berdasar dan fitnah maupun pernyataan yang tidak bisa diverifikasi secara obyektif. Rakyat sedang susah, jangan kita malah menambah beban dan pikiran rakyat dengan menyebar berita hoax dan fitnah,” ujarnya, dalam keterangannya, Minggu (21/2/2021).
Herzaky bicara demikian merespons mantan Sekjen Demokrat Marzuki Alie yang menceritakan bahwa SBY saat menjadi calon presiden pada 2004 pernah mengatakan bahwa Megawati yang kala itu menyandang status capres petahana akan kecolongan dua kali.
Pernyataan Marzuki itu kemudian disambut oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto beberapa hari berselang. Berkaca dari pernyataan Marzuki, Hasto menyebut SBY memang sejak dulu memiliki desain misi pencitraan hingga memenangkan Pilpres 2004.
Herzaky membantah. Dia mengatakan bahwa Marzuki Alie tidak benar dan meminta Hasto untuk tidak mengadu domba SBY dan Megawati.
“Kami, dalam berbagai pernyataan di publik selalu menegaskan, kalau ini bukan AHY versus Bapak Presiden Joko Widodo, dan bukan pula biru melawan merah, apalagi Ibu Megawati dan Bapak SBY,” kata Herzaky.
“Ini adalah perjuangan melawan penyalahgunaan kekuasaan, abuse of power, yang dilakukan oleh oknum pejabat penting negara, yang mengancam dan merusak demokrasi kita,” tukasnya.
Diketahui, Marzuki menyatakan bahwa Megawati bakal kecolongan dua kali jika SBY ikut Pilpres 2004. Marzuki mengaku SBY sendiri yang mengatakan itu.
Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto lantas menanggapi. Hasto mengatakan pernyataan Marzuki tersebut membuktikan bahwa SBY memiliki desain pencitraan, sehingga mendapat simpati masyarakat hingga memenangkan pilpres di masa silam.
“Dalam politik, kami diajarkan moralitas politik yaitu satunya kata dan perbuatan. Apa yang disampaikan oleh Marzuki Alie tersebut menjadi bukti bagaimana hukum moralitas sederhana dalam politik itu tidak terpenuhi dalam sosok Pak SBY,” kata Hasto dalam keterangannya, Rabu lalu.
“Terbukti bahwa sejak awal Pak SBY memang memiliki desain pencitraan tersendiri termasuk istilah ‘kecolongan dua kali’ sebagai cermin moralitas tersebut,” sambungnya.[prs]







