Realitarakyat.com – Kementrian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi bersama dengan Pengajian Al-Hidayah baru saja mengadakan Workshop Pendidikan-Sosialisasi Penguatan Karakter “Sinergi Penguatan Karakter Bersama Masyarakat” pada hari Jumat (10/12). Acara ini sendiri dihadiri secara luring dan daring oleh lebih dari 100 peserta ibu-ibu pengajian Al-Hidayah yang berasal dari 34 provinsi yang ada di Indonesia.
Dibuka oleh Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi, Nadiem Makarim menyampaikan bahwa kunci dari merdeka belajar adalah penguatan karakter, moralitas, akhlak dan iman yang tinggi. Diharapkan anak – anak nantinya dapat menjadi agent of change salah satunya menjadi agen kedamaian.
Menanggapi hal itu, Wakil Ketua Komisi X DPR, Hetifah Sjaifudian mengapresiasi program sosialisasi penguatan karakter dimana ibu-ibu memegang peranan penting dalam penguatan karakter.
Menurutnya, sesuai dengan amanah UUD 1945 Pasal 31 Ayat 3 peningkatan keimanan, ketagwaan dan akhlak mulia merupakan amanat undang-undang yang harus diamalkan baik di lingkungan sekolah maupun masyarakat. Ibu-ibu harus mendorong anak – anak untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, dan akhlak mulia.
“DPR RI bersama dengan Kemendikbudristek sedang membuat Peta Jalan Pendidikan 2020 – 2035 yang akan menjadi acuan negara, salah satunya Pelajar Pancasila. Anggaran sebesar 9,9 trilliun sedang diperjuangkan untuk program Pendidikan,” kata Hetifah dalam keterangannya, Minggu (12/12).
Sementara itu, Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbudristek Hendarman mengatakan, penguatan karakter itu bukan hanya untuk anak-anak tetapi untuk semua kalangan. “Untuk itu disebut pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai – nilai Pancasila,” ungkap Hendarman.
Ada tiga mandat pencegahan dan penanganan dalam penguatan karakter ini yaitu : perundungan, kekerasan seksual dan toleransi. Dalam konteks perundungan, 41 pelajar berusia 15 tahun pernah mengalami perundungan setidaknya lebih dari beberapa kali dalam satu bulan. Adapun jenis perundungan dibagi menjadi tiga : psikis, fisik, dan cyberbullying. Dari sisi kekerasan seksual, isu ini menjadi isu yang ramai diperbincangkan akhir – akhir ini.
Dapat dikatakan bahwa kondisi Indonesia saat ini berada di posisi darurat kekerasan seksual. Data dari Kemendikbud mengungkap bahwa 40% dari 304 mahasiswa perempuan pernah mengalami kekerasan seksual. Mandat terakhir adalah toleransi dimana keberagaman merupakan kunci dari Indonesia yang berasaskan Bhineka Tunggal Ika.
Dari aspek masyarakat, Ibu Dra. Hj. Harbiah Salahuddin, M.Si. menekankan posisi ibu – ibu di keluarga sangat penting dalam pendidikan karakter anak. Ibu Harbiah yang juga merupakan Ketua Umum DPP Pengajian Al-Hidayah periode 2015 – 2020 juga menyampaikan komitmennya untuk melakukan kolaborasi dengan Kemendikbud untuk menanamkan penguatan karakter di lingkungan keluarga.
“Al Ummu Madrasatul Ula” ucap bu Harbiah, “ibu itu sekolah pertama dan utama, dimana ibu mengajarkan keluarga tentang adab sopan santun, bersosialisasi, tanggung jawab, disiplin, dimana semua itu ilmu yang diajarkan di rumah,” tukasnya.[prs]







