Realitarakyat.com – Tentara Israel menyerang sekolah yang penuh pengungsi sedang tertidur di Kota Gaza pada Senin (26/5/2025) dini hari, membuat semuanya terbakar.
Otoritas kesehatan setempat mengatakan sedikitnya 31 warga Palestina tewas terbakar, termasuk 18 anak-anak dan enam perempuan, dan puluhan lainnya terluka dalam serangan yang menargetkan Sekolah Fahmi al-Jirhawi.
“Kebakaran terjadi saat anak-anak dan perempuan sedang tidur di dalam. Tubuh mereka terbakar dan dilalap api,” ujar Fares Afaneh, Direktur Ambulans dan Layanan Darurat di Gaza utara, dalam sebuah video.
“Anak-anak dan perempuan berteriak di dalam kelas yang terbakar. Kami tidak bisa menyelamatkan mereka karena api,” katanya.
“Pemandangan itu sangat memprihatinkan, dan keparahan dari apa yang kami lihat tidak dapat digambarkan.”
Afaneh mengatakan, mayat-mayat korban yang hangus terbakar, sebagian besar dari mereka adalah anak-anak dan perempuan, dipindahkan ke Rumah Sakit Al-Ahli Baptist dan Al-Shifa di Kota Gaza, sementara lebih dari 60 warga sipil lainnya terluka dengan tingkat keparahan dan luka bakar yang berbeda-beda.
Pembakaran kuburan massal
Nawal Hassan, seorang warga Palestina yang tinggal di seberang sekolah, seperti dilansir Anadolu, mengatakan bahwa mereka terbangun oleh suara ledakan yang menakutkan, “seolah-olah langit telah runtuh menimpa mereka.”
“Ada anak-anak yang berteriak, suara mereka keluar dari ruang kelas yang terbakar, tetapi api lebih besar dari semua orang,” katanya kepada Anadolu, sambil menunjuk ke arah sekolah dengan tangannya yang bergetar.
Sambil berteriak dari balkon rumahnya, Nawal berusaha memberi tahu para tetangganya dan memanggil ambulans serta tim pemadam kebakaran.
“Saya melihat dengan mata kepala sendiri tubuh-tubuh kecil terbakar dan yang lainnya bergerak di dalam kobaran api. Kemudian semuanya berhenti, dan kami tidak bisa berbuat apa-apa,” katanya.
“Kami semua berteriak, tetapi api lebih cepat dari suara kami. Sekolah telah menjadi kuburan massal yang terbakar. Bagaimana mereka akan meyakinkan kami bahwa itu bukan kejahatan perang?” ***







