Realitarakyat.com — Anggota Komisi III DPR RI Bambang Soesatyo (Bamsoet) mendorong perayaan Natal 2025 dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat toleransi, solidaritas, dan empati sosial di tengah meningkatnya frekuensi bencana alam di berbagai wilayah Indonesia.
Menurut Bamsoet, situasi kebencanaan yang meluas menuntut seluruh elemen bangsa untuk memperkuat persatuan tanpa memandang perbedaan agama, suku, maupun golongan.
“Di tengah bencana yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, Natal harus dimaknai sebagai panggilan moral untuk memperkuat empati, solidaritas, serta persatuan. Dalam situasi bencana, tidak ada perbedaan apa pun, yang ada hanya sesama anak bangsa yang saling menolong,” kata Bamsoet, Sabtu (27/12/2025).
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), sepanjang 2025 tercatat lebih dari 2.900 kejadian bencana alam di Indonesia, yang didominasi banjir, cuaca ekstrem, dan tanah longsor. Bencana tersebut menimbulkan dampak besar, mulai dari korban jiwa, kerusakan rumah dan infrastruktur, hingga jutaan warga yang mengungsi dan kehilangan mata pencaharian.
Khusus bencana banjir di wilayah Sumatera, hingga 24 Desember 2025 tercatat 1.129 orang meninggal dunia, 174 orang masih dinyatakan hilang, serta 496.293 jiwa masih berada di pengungsian.
Bamsoet yang juga Ketua DPR RI ke-20 menilai korban bencana umumnya berasal dari kelompok masyarakat paling rentan secara ekonomi dan sosial. Mereka banyak tinggal di kawasan rawan bencana, memiliki hunian dengan konstruksi seadanya, serta bergantung pada sektor informal yang mudah terdampak ketika bencana terjadi.
“Kondisi ini membuat pemulihan pascabencana berjalan lambat dan penuh ketidakpastian,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa ujian kemanusiaan muncul ketika para korban masih berada di pengungsian tanpa kepastian masa depan. Dalam situasi tersebut, seluruh warga negara memiliki kewajiban moral untuk hadir dan membantu.
“Ketika saudara-saudara kita masih kehilangan rumah dan mata pencaharian, di situlah nurani kebangsaan kita diuji,” kata Bamsoet.
Lebih lanjut, Bamsoet menekankan pentingnya solidaritas sosial yang berkelanjutan. Bantuan bagi korban bencana, menurutnya, tidak boleh berhenti pada penyaluran logistik darurat, tetapi harus dilanjutkan dengan pemulihan ekonomi masyarakat terdampak, termasuk petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil.
Ia berharap perayaan Natal 2025 menjadi ruang refleksi bersama bahwa perbedaan keyakinan bukanlah penghalang untuk bersatu, terutama dalam menghadapi krisis kemanusiaan.
“Dalam situasi krisis, nilai toleransi dan gotong royong harus semakin diperkuat. Dengan nilai-nilai itu, saya yakin Indonesia mampu melewati setiap krisis, termasuk bencana alam,” tuturnya. (ndi)







