Realitarakyat.com – Anggota Komisi X DPR RI, Lestari Moerdijat, melontarkan peringatan keras terkait kondisi literasi nasional yang kini berada di titik mengkhawatirkan.
Menurutnya, rendahnya kemampuan berpikir kritis masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital bukan sekadar masalah angka, melainkan ancaman nyata bagi kedaulatan bangsa.
Peringatan ini didasarkan pada data Tes Kemampuan Akademik (TKA) 2025 yang baru saja dirilis oleh Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah.
Hasilnya menunjukkan potret buram kualitas literasi peserta didik di tanah air:
- Pemahaman Tekstual: Hanya 49,21 persen.
- Pemahaman Inferensial: 43,21 persen.
- Kemampuan Evaluatif & Apresiatif: 45,32 persen.
Angka-angka tersebut mengindikasikan bahwa lebih dari separuh peserta didik di Indonesia belum memiliki fondasi literasi yang kuat, terutama dalam menyaring dan memahami informasi secara mendalam.
Lestari menekankan bahwa di era saat ini, literasi tidak boleh lagi hanya dimaknai sebagai kemampuan mengeja huruf atau membaca kalimat.
“Tantangan literasi saat ini sangat berat. Masyarakat harus mampu berpikir kritis di tengah derasnya arus informasi. Ini adalah ancaman nyata bagi daya saing kita,” tegas Lestari dalam keterangan persnya di Jakarta, Kamis (26/3).
Pihak DPR mengidentifikasi sejumlah faktor yang menghambat peningkatan literasi nasional. Beberapa di antaranya adalah dominasi budaya lisan yang masih kuat dibanding budaya tulis, kesenjangan akses antarwilayah, hingga kurangnya dukungan dari lingkungan keluarga.
Namun, faktor ekonomi juga menjadi sorotan tajam. Harga buku yang relatif mahal dianggap menjadi barikade bagi masyarakat untuk mengakses bacaan berkualitas.
Sebagai langkah konkret, Lestari mendorong pemerintah untuk melakukan penguatan perpustakaan dan memberikan insentif fiskal di sektor perbukuan. Ia mengusulkan penghapusan pajak buku, termasuk Pajak Pertambahan Nilai (PPN) serta pajak untuk bahan baku kertas.
Langkah ini diharapkan dapat menekan harga buku di pasaran, sehingga masyarakat dari berbagai lapisan ekonomi memiliki kesempatan yang sama untuk memperkuat literasi dan daya kritis mereka.[prs]






