Realitarakyat.com – Dewan Pengurus Pusat (DPP) Partai Demokrat menyatakan duka mendalam atas gugurnya tiga prajurit TNI dalam misi perdamaian PBB (UNIFIL) di Lebanon Selatan.
Partai berlambang Mercy ini mengutuk keras serangan tersebut dan mendesak akuntabilitas internasional atas insiden maut yang terjadi pada 29–30 Maret 2026 tersebut.
Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa gugurnya Praka Farizal Rhomadhon, Kapten Inf Zulmi Aditya, dan Sertu Ikhwan merupakan kehilangan besar bagi bangsa Indonesia.
Ketiganya gugur akibat ledakan dan serangan proyektil saat menjalankan tugas mulia menjaga perdamaian dunia.
“Ini bukan sekadar kehilangan bagi TNI, tetapi kehilangan besar bagi bangsa Indonesia. Mereka gugur dalam tugas mulia menjaga perdamaian dunia,” tegas AHY di Jakarta, Rabu (1/4).
Sebagai veteran yang pernah tergabung dalam Kontingen Garuda pertama di UNIFIL pada tahun 2006, AHY mengaku sangat memahami risiko tinggi serta kehormatan yang dipikul oleh para prajurit di wilayah konflik.
Senada dengan AHY, Kepala Badan Komunikasi Strategis DPP Partai Demokrat, Herzaky Mahendra Putra, secara spesifik mengecam tindakan Israel sebagai pelaku serangan.
Demokrat menilai serangan terhadap personel PBB adalah pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional.
Pihak Demokrat mendorong PBB dan UNIFIL untuk segera melakukan investigasi transparan guna mengungkap sumber serangan secara jelas.
Langkah ini dianggap krusial untuk memastikan adanya konsekuensi hukum bagi pelaku serta menjadi bahan evaluasi perlindungan pasukan perdamaian di masa depan.
Mengingat sejarah panjang kader Demokrat dalam misi PBB—termasuk Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang pernah menjabat Chief of Military Observer di Bosnia (1995)—partai ini menekankan perlunya penguatan Prosedur Operasional Standar (SOP).
Demokrat mendesak pemerintah dan otoritas terkait untuk menyiapkan langkah kontinjensi yang lebih adaptif.
Hal ini bertujuan menjamin keselamatan prajurit Indonesia yang masih bertugas, sehingga kontribusi Indonesia dalam misi perdamaian dunia tetap optimal tanpa mengabaikan faktor nyawa personel di lapangan.[prs]







