Jelang Teken MoU Damai di Swiss, Iran Peringatkan AS Jamin Israel Setop Serangan

Jelang Teken MoU Damai di Swiss, Iran Peringatkan AS Jamin Israel Setop Serangan
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi. //net

Realitarakyat.com — Pemerintah Iran memperingatkan Amerika Serikat (AS) untuk mematuhi komitmen perjanjian gencatan senjata sementara menjelang penandatanganan resmi Nota Kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) di Swiss pada Jumat (19/6/2026).

Teheran menegaskan bahwa setiap kelanjutan agresi militer Israel di Lebanon akan dianggap sebagai pelanggaran langsung terhadap kesepakatan damai tersebut.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Iran memandang AS dan Israel berada dalam satu kubu, sementara Iran dan kelompok milisi Hizbullah berada di kubu lainnya.

Oleh karena itu, AS dinilai bertanggung jawab penuh atas segala tindakan militer yang diambil oleh sekutunya.

“Dalam pandangan kami, dua pihak dalam nota kesepahaman ini adalah Amerika Serikat dan Israel di satu pihak, serta Iran dan Hizbullah di pihak lainnya,” ujar Araghchi, dikutip dari Reuters, Selasa (16/6/2026).

Araghchi menambahkan bahwa Iran dan AS dijadwalkan memulai putaran baru perundingan di Swiss untuk merumuskan kesepakatan final setelah MoU resmi ditandatangani.

Kesepakatan penghentian perang ini berhasil dicapai pada Minggu (14/6/2026) melalui mediator internasional, menyusul konflik bersenjata yang pecah sejak 28 Februari lalu.

Dewan Keamanan Nasional Tertinggi (SNSC) Iran mengonfirmasi bahwa draf teks MoU tersebut telah difinalisasi pada Senin (15/6/2026) malam atas arahan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Mojtaba Khamenei.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengumumkan bahwa salah satu poin krusial dalam komitmen tersebut adalah pencabutan blokade laut AS terhadap Iran.

Kendati demikian, Trump mengakui proses negosiasi tersebut sempat hampir batal akibat sikap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu yang bersikeras melanjutkan operasi militer di Lebanon.

Trump mengingatkan bahwa penghentian perang ini krusial bagi keselamatan Israel dari potensi ancaman nuklir Iran di masa depan. (*)