Realitarakyat.com — Sampel makanan dan muntahan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Sidoarjo, Jawa Timur, diperiksa di laboratorium untuk mengungkap penyebab dugaan keracunan yang dialami ratusan santri setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sebanyak 556 santri dilaporkan mengalami sejumlah gejala setelah mengonsumsi makanan MBG. Sampel terkait kasus tersebut telah dibawa ke Laboratorium Kesehatan (Labkes) di Surabaya untuk menjalani pemeriksaan.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan sampel diambil pada Selasa (1/9/2026) malam. Pemeriksaan mencakup muntahan santri serta bahan makanan yang digunakan oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Belum ada hasil. Muntahan dengan bahan makanan (sampelnya),” kata Lakhsmie, Kamis (3/9/2026).
Menurut Lakhsmie, hasil pemeriksaan diperkirakan baru diketahui sekitar satu pekan. Namun, ia menekankan bahwa penanganan kasus tidak berhenti pada mengetahui hasil uji laboratorium.
Hal yang lebih penting, kata dia, adalah memastikan sumber persoalan, termasuk kemungkinan adanya masalah pada bahan maupun proses pengolahan makanan yang dikonsumsi para santri.
“Sebetulnya yang paling penting adalah bukan hasilnya itu. Yang paling penting adalah sikap kita bagaimana terkait kalau misalnya ini terbukti dari karena permasalahan produk olahannya atau bahannya itu yang paling penting,” ujarnya.
Dinkes Sidoarjo juga akan melakukan investigasi secara menyeluruh terhadap proses penyediaan makanan MBG. Pemeriksaan akan melihat apakah seluruh prosedur operasional standar atau SOP telah dijalankan.
Salah satu hal yang akan ditelusuri adalah rentang waktu sejak makanan diterima hingga dikonsumsi oleh para penerima manfaat. Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya faktor yang memengaruhi keamanan makanan selama proses distribusi dan penyajian.
Lakhsmie mengatakan investigasi tidak hanya dilakukan oleh Dinkes Sidoarjo. Sejumlah pihak akan dilibatkan dalam proses tersebut, termasuk Badan Gizi Nasional (BGN).
Hasil uji laboratorium nantinya akan menjadi salah satu bahan dalam proses investigasi untuk mengetahui penyebab dugaan keracunan secara lebih menyeluruh.
Pemerintah daerah berharap pemeriksaan tersebut dapat memberikan kepastian mengenai sumber masalah sekaligus menjadi dasar evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dalam pelaksanaan program MBG.(Din)







