Hikmah di Balik Pandemi bagi Dunia Pendidikan Kita

Hikmah di Balik Pandemi bagi Dunia Pendidikan Kita

Oleh Sugandi

HAMPIR tiga tahun lamanya Pandemi COVID-19 melanda dunia, termasuk Indonesia. Sejak pandemi itu pula, dunia pendidikan di Indonesia telah mengubah pola pembelajaran yang biasa dilakukan dengan tatap muka di dalam kelas, berubah menjadi belajar secara online/daring (belajar dalam jaringan).

Semula, perubahan pola pembelajaran ini membuat hampir semua orang tua, apalagi anak didik atau siswa bingung karena tidak paham dengan pembelajaran berbasis jaringan internet tersebut.

Bagi pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek), memang tidak mudah untuk memberikan pemahaman secara instan. Perlu dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan, baik mekanisme ataupun sistem pembelajaran yang diterapkan di masa pandemi ini.

Tak heran, bila sistem pembelajaran seperti ini awalnya banyak mengundang protes atau penolakan dari orang tua atau masyarakat pada umumnya. Namun berkat pemahaman yang disampaikan pemerintah dan keterbiasaan itulah yang membuat orang tua dan masyarakat manyadari bahwa perpaduan antara pembelajaran tatap muka dengan pembelajaran berbasis digital menjadi kebutuhan untuk saat ini, terutama dalam upaya menghindari penyebaran COVID-19 yang hingga kini belum beranjak dari bumi Indonesia.

Kita memahami, di masa pandemi seperti ini, guru, siswa dan oramg tua dituntut untuk bisa menghadirkan proses pembelajaran yang aktif dan efektif walaupun harus dilaksanakan dari rumah masing-masing. Dimana proses pembinaan karakter siswa yang terjun bebas sejak pandemi ini berlangsung begitu sangat dirasakan.

Dimulai dari maraknya siswa berambut gondrong bahkan sampai ada yang di cat warna-warni, hal itu tampak terlihat pada saat melakukan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring, siswa yang seringnya terlambat menyerahkan tugas dengan alasan yang macam-macam, bahkan tak jarang ada siswa yang tidak hadir dalam KBM daring tanpa alasan yang jelas, ditambah lagi budaya kejujuran yang seharusnya bisa menjadi karakter utama yang harus dimiliki oleh mereka para generasi anak bangsa, nyaris bias.

Disadari pula, pandemi COVID-19 telah mendatangkan begitu banyak dampak negatif dan dampak positifnya menjadi permasalahan yang serius dalam tatanan pendidikan di Indonesia sekarang dan ke depannya.

Dampak positif dari pandemi ini, adalah dapat memotivasi, memberikan semangat baru melalui masa-masa sulit untuk terus mencapai tujuan pendidikan di Indonesia lebih maju dan modern dengan metode dan tekhnologi yang tersedia.

Ya…, tugas pendidik menjadi semakin berat di tengah pandemi ini, namun dengan adanya kesulitan itu, biasanya kreativitas untuk keluar dari masa-masa sulit seperti ini akan muncul dengan sendirinya. Seperti munculnya banyak aplikasi pembelajaran online, siswa dapat diawasi langsung oleh orangtua, kolaborasi antara orangtua dan guru semakin akrab dan dekat, penerapan ilmu dan perhatian dalam keluarga baik itu sekedar mengingatkan siswa untuk belajar, melakukan diskusi kecil dengan anak dirumah, guru menjadi lebih melek akan tekhnologi serta menjadikan internet sebagai sumber informasi yang positif, dan lain sebagainya.

Pemerintah sudah melakukan berbagai upaya agar pendidikan bisa terus berjalan di era pandemi ini. Mengingat, pendidikan merupakan aset yang sangat penting bagi sebuah bangsa demi kemajuan suatu negara.

Salah satunya adalah dengan mengeluarkan peraturan pemerintah tentang mewajibkan setiap orang di manapun berada untuk melakukan 3M (Memakai masker, Mencuci tangan dan Menjaga jarak) dan proses vaksinisasi yang masih berlangsung sampai sekarang sebagai salah satu upaya untuk mencegah peneyabaran virus Covid-19 ini meluas.

Seiring dengan berjalannya waktu, masyarakat sudah terbiasa dan harus menerima serta mendukung adanya kebijakan yang telah di buat oleh pemerintah dalam dunia pendidikan.

Sekalipun dalam sistem pembelajaran jarak jauh dan “work from home” yang dianjurkan pemerintah masih banyak kendala seperti kendala pada jaringan, susahnya untuk memahami materi yang diterima atau ditangkap oleh siswa maupun pelajar, dan banyak keluhan seperti diberikannya tugas yang banyak, hal itu tetap bisa berjalan dengan cukup baik sampai hari ini.

Karena itu, mari dukung apapun langkah yang ditempuh pamerintah agar kehidupan bisa kembali normal. Semoga badai COVID-19 ini bisa membawa berkah untukku, untukmu, dan untuk kalian.

Sebab, kegiatan belajar online justru membuat harmonisasi antara stakeholder semakin kuat. Bahkan hal ini yang menjadi hikmah di masa pandemi.

Mengingat, selama ini peran sekolah dan orangtua seperti ada pembatas. Ketika anak masuk ke sekolah, orangtua seolah-olah melepas tanggung jawab pendidikan anak kepada sekolah.

Namun begitu ada pandemi, pandangan seperti itu berubah total. Sekolah dan orangtua harus berkolaborasi supaya kegiatan belajar online bisa maksimal. Guru pun wajib memberikan materi pembelajaran yang maksimal kepada anak secara online, sedangkan orangtua mendampingi anak saat belajar di rumah.

Hasilnya, muncul harmonisasi antar stakeholder pendidikan yang bertujuan untuk memberikan pendidikan secara maksimal kepada anak. Terlebih lagi, harmonisasi antara orang tua murid dangan guru semakin kuat ketika didukung oleh teknologi. (*)