Realitarakyat.com – Lembaga Survei Indikator Politik Indonesia baru saja merilis hasil survei peta elektoral terkini calon presiden dan wakil presiden 2024 mendatang.
Hasil survei menunjukkan dari sejumlah nama besar yang disurvei belum ada kandidat calon presiden yang memiliki elektabilitas dominan untuk memenangkan pertarungan.
Menanggapi hasil temuan survei tersebut, Direktur Eksekutif Indo Barometer M. Qodari menyampaikan bahwa survei dari Indikator ini dianggap penting dan menarik karena ada faktor penentu kemenangan dari calon presiden yaitu sosok dari calon wakil presiden.
“Jika mencermati hasil survei, hasilnya sangat menarik yaitu ada “the power of cawapres” karena ternyata cawapres penentu kemenangan, ada cawapres yang bisa menaikkan suara capres nya, pasangannya, ada juga yang bisa menurunkan contoh yang bisa menaikkan itu adalah Erick Thohir dan Sandiaga Uno,” ujar M Qodari dikutip dari dialog Kabar Petang di kanal Youtube TvOne News, Selasa (7/12).
Menurut Qodari, pertarungan di Pilpres 2024 akan semakin ketat dan kompetitif mengingat selisih diantara kandidat sangat ketat dan tipis. “Maka ke depan yang akan menentukan kemenangan adalah pengaruh dari calon wakil presidennya.” Papar Qodari
Hal menarik lainnya dari hasil survei tersebut, lanjut Qodari bahwa posisi cawapres juga ternyata ada kelasnya. Qodari kemudian membagi tiga kelas cawapres berdasarkan perolehan elektabilitasnya, yakni; Papan atas dengan peroleh 10% ke atas, papan tengah sekitar 5-10% dan papan bawah kurang dari 5%.
Jika melihat hasil survei, maka posisi cawapres papan atas yaitu Sandiaga Uno 30,6%, Ridwan Kamil 13,2% dan Erick Thohir 10,2%. Selanjutnya, papan tengah Agus Harimurti Yudhoyono 9,3% dan Khofifah Indar Parawansa 6.0%. Kemudian papan bawah, Puan Maharani 4.4%, Airlangga Hartarto 3,8%.
“Jadi kalau melihat simulasi yang ada, posisi cawapres dari kelas papan atas yang dapat menambah perolehan suara pasangannya,” urai Qodari
Dengan begitu, kata Qodari peta konstelasi bisa berubah karena melihat posisi cawapres ikut menyumbang suara.
“Jadi dengan survei ini bahwa ternyata posisi cawapres itu menentukan capres menjadi turun itu ketika berpasangan dengan cawapres papan bawah dan yang naik adalah nama-nama yang berpasangan cawapres papan atas,” beber Qodari.[prs]







