Realitarakyat.com – Seorang mahasiswa PhD asal Turki, Rumeysa Ozturk, mengaku takut mati ketika agen-agen Amerika Serikat (AS) yang bertopeng tiba-tiba menahannya tanpa peringatan di luar rumahnya di Massachusetts, bulan lalu.
Ozturk menggambarkan penangkapan pada 25 Maret itu sebagai “aneh” dalam dokumen pengadilan yang diserahkan pada hari Kamis oleh American Civil Liberties Union (ACLU).
“Saya pikir ini adalah situasi yang aneh dan saya yakin mereka akan membunuh saya,” tulisnya, seraya menambahkan bahwa para agen ”semua mengenakan pakaian sipil.”
Dia mencatat bahwa “ini adalah situasi yang aneh dan saya yakin mereka akan membunuh saya.”
Dia mengatakan bahwa dia sedang berbicara dengan ibunya di telepon ketika beberapa pria mengepungnya, mengambil teleponnya dan mengabaikan permintaannya yang berulang kali untuk mengetahui siapa mereka.
Meskipun salah satu dari mereka sempat menunjukkan sebuah lencana, ia mengatakan bahwa lencana tersebut terlalu cepat untuk dibaca dan tidak memberikan kepastian.
“Tapi saya tidak berpikir bahwa mereka adalah polisi karena saya tidak pernah melihat polisi mendekati dan membawa seseorang seperti ini,” tulisnya.
Ozturk, seperti dilansir Anadolu, dibawa ke beberapa lokasi, termasuk satu tempat yang dia katakan: “Itu adalah tempat yang terisolasi dengan empat orang dan itu menakutkan.”
Dia kemudian diterbangkan ke fasilitas penahanan di negara bagian Louisiana, di mana dia mengalami beberapa kali serangan asma dan mengatakan bahwa dia tidak mendapatkan perawatan medis yang layak.
Salah satu episode terjadi saat singgah di sebuah bandara di Atlanta, di mana dia tidak bisa mendapatkan obat yang diresepkan.
Kondisi di fasilitas tersebut “tidak sehat, tidak aman, dan tidak manusiawi,” katanya, mengutip kepadatan, kebersihan yang buruk, dan perlakuan buruk secara verbal.
Ozturk mengatakan bahwa seorang perawat mencoba melepas jilbabnya tanpa persetujuannya selama pemeriksaan medis.
“Dia berkata ‘Anda harus melepaskan benda itu dari kepala Anda’ dan melepas hejab (jilbab) saya tanpa meminta izin. Saya mengatakan kepadanya bahwa Anda tidak boleh melepas jilbab saya dan dia mengatakan ini untuk kesehatan Anda. Setelah beberapa menit, saya mengenakan kembali jilbab saya. Tetapi mereka tidak melakukan apapun untuk mengobati asma saya dan hanya memberikan beberapa ibuprofen,” kata Ozturk.
Ia berharap dapat kembali ke Universitas Tufts untuk menyelesaikan studinya: “Saya hanya memiliki waktu sekitar 9 bulan lagi untuk menyelesaikannya dan saya sangat khawatir tidak dapat menyelesaikan studi saya.”
“Saya berdoa setiap hari untuk pembebasan saya sehingga saya dapat kembali ke rumah dan komunitas saya di Somerville,” tambahnya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio telah mengkonfirmasi bahwa visa pelajar F-1 Ozturk telah dicabut dan membela penahanannya. Pihak berwenang mengklaim bahwa ia terlibat dalam kegiatan yang mendukung kelompok perlawanan Palestina, Hamas, tanpa memberikan bukti.
Sebuah video viral merekam saat-saat Ozturk ditahan, menunjukkan agen-agen Departemen Keamanan Dalam Negeri yang bertopeng memborgolnya dan secara paksa mengambil ponselnya.
Pengacara dan pendukung Ozturk berpendapat bahwa ia ditahan karena ikut menulis sebuah opini di The Tufts Daily pada Maret 2024 yang mengkritik penanganan universitas terhadap gerakan pro-Palestina.
Penahanan Ozturk terjadi di tengah tindakan keras pemerintahan Trump yang lebih luas terhadap mahasiswa dan akademisi pro-Palestina, termasuk penahanan aktivis Palestina dan lulusan Columbia University, Mahmoud Khalil, serta peneliti Universitas Georgetown, Badar Khan Suri. ***







