Anak Jadi Target Rekrutmen Teroris Lewat Dunia Digital, Densus 88 Tingkatkan Patroli Siber

Ilustrasi anak remaja di tangkap

Realitarakyat.com  – Ancaman terorisme kini merambah ruang digital dengan sasaran yang semakin mengkhawatirkan: anak-anak. Densus 88 Antiteror Polri mengungkap pola rekrutmen jaringan teroris yang berkembang pesat melalui gim daring dan platform komunikasi terbuka.

Juru bicara Densus 88, AKBP Mayndra Eka Wardhana, menegaskan bahwa metode perekrutan semakin variatif. “Ada rekrutmen melalui game online, makin hari makin berkembang variannya,” ujarnya, Jumat (21/11/2025).

Game Online Jadi Pintu Masuk Fitur mabar (main bareng) dalam gim daring memungkinkan interaksi tanpa tatap muka. Di balik keseruan bermain, perekrut bisa mendekati calon target secara perlahan. Beberapa gim bahkan menyediakan ruang komunikasi khusus yang dapat diatur secara tertutup. Dari sana, anak-anak yang dianggap potensial dipindahkan ke kanal lebih aman dan terenkripsi.

“Ketika main bareng, terjadi komunikasi. Setelah itu mereka akan dipindahkan ke grup yang lebih khusus, bahkan ada yang menyediakan open channel tapi terenkripsi,” jelas Mayndra.

Algoritma Jadi Jebakan Terselubung Mayndra menambahkan, sebagian anak masuk ke lingkaran jaringan tanpa sadar. Rasa ingin tahu yang tinggi membuat mereka mudah terjebak dalam algoritma yang mengarahkan ke konten berbahaya. “Ketika anak ingin tahu, algoritma akan menuntun dia ke sana,” katanya.

Patroli Siber dan Kontranarasi Untuk menekan ancaman ini, Densus 88 melakukan patroli siber intensif dan melaporkan temuan ke Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Langkah bersama mencakup penurunan konten berbahaya serta penyebaran kontranarasi deradikalisasi.

Mayndra menekankan bahwa kontranarasi menjadi senjata utama menghadapi terorisme karena motifnya bersifat ideologis. Organisasi keagamaan juga dilibatkan dalam memproduksi konten moderasi yang efektif untuk edukasi publik.

Pesan Penting Fenomena ini menjadi peringatan bagi orang tua dan masyarakat luas: ruang digital bukan hanya tempat hiburan, tetapi juga bisa menjadi pintu masuk ideologi berbahaya. Pengawasan, edukasi, dan literasi digital menjadi kunci agar anak-anak tidak mudah terjerat.(Din)