Realitarakyat.com – Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Oleh Soleh, menyatakan bahwa alat utama sistem senjata (alutsista) buatan dalam negeri telah terbukti memiliki kualitas bertaraf internasional.
Pernyataan tersebut disampaikan menanggapi laporan sejumlah media internasional yang menyebutkan pesawat CN-235 produksi Indonesia digunakan oleh Amerika Serikat dalam operasi penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro.
CN-235 merupakan pesawat angkut taktis hasil kerja sama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan perusahaan asal Spanyol, CASA. Pesawat ini telah dioperasikan oleh berbagai negara untuk keperluan militer maupun sipil.
“Terlepas dari dinamika geopolitik yang melatarbelakangi penggunaan pesawat tersebut oleh negara lain, hal ini menunjukkan bahwa produk alutsista buatan anak bangsa memiliki kualitas dan daya saing global. Sayangnya, pemanfaatannya di dalam negeri sendiri belum maksimal,” kata Oleh Soleh dalam siaran pers yang diterima, Rabu (7/1).
Menurut Soleh, peristiwa ini seharusnya menjadi momentum refleksi strategis bagi pemerintah untuk menata ulang arah kebijakan pertahanan nasional, khususnya dalam mendorong peningkatan produksi dan pemanfaatan alutsista buatan dalam negeri.
Ia menilai, penguatan produksi alutsista nasional akan mendorong Indonesia menuju kemandirian pertahanan dan mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri.
Dengan demikian, Indonesia tidak lagi bergantung pada alutsista impor, mengingat produk dalam negeri telah menunjukkan kualitas dan daya saing di tingkat global.
“Kedaulatan negara tidak hanya ditentukan oleh kekuatan diplomasi, tetapi juga oleh kemampuan kita memproduksi dan menguasai alutsista sendiri. Ini sudah menjadi kebutuhan strategis, bukan sekadar pilihan,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa penguatan industri pertahanan nasional sejalan dengan Astacita di bidang pertahanan, yang menempatkan kemandirian serta kedaulatan nasional sebagai fondasi utama pembangunan bangsa.
Oleh karena itu, Soleh mendorong pemerintah untuk memberikan prioritas anggaran, keberpihakan kebijakan, serta konsistensi pemesanan alutsista kepada industri pertahanan nasional, termasuk PT Dirgantara Indonesia, agar ekosistem pertahanan berbasis produksi dalam negeri dapat terwujud secara berkelanjutan.
“Jika produk kita dipercaya dan digunakan negara besar dalam operasi strategis, maka tidak ada alasan bagi kita sendiri untuk ragu. Sudah saatnya alutsista berbasis produksi anak bangsa menjadi tulang punggung pertahanan nasional,” tuturnya.[prs]







