Jaga Mutu Stok Beras, Bulog Gandeng BRIN Terapkan Teknologi Baru

Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani
Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani. //net

Realitarakyat.com – Perum Bulog menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengadopsi teknologi pemeliharaan beras terbaru guna melindungi stok dari serangan hama, menjaga kualitas produk, serta memperkuat ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.

“Kami sudah koordinasi dengan Kepala BRIN. BRIN akan suport kami untuk pemeliharaan beras ke depan itu ada teknologi baru,” kata Direktur Utama Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dalam keterangannya, Jumat (9/1).

Rizal belum merinci teknologi yang akan diterapkan. Namun, ia menegaskan bahwa inovasi tersebut ditujukan untuk menjaga kualitas cadangan beras pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog agar tetap aman dan layak konsumsi.

Saat ini, stok CBP tercatat mencapai sekitar 3,25 juta ton pada awal 2026. Jumlah tersebut merupakan sisa pasokan beras dari tahun 2025 yang dialihkan ke tahun berjalan.

Kerja sama dengan BRIN ini menghadirkan teknologi pemeliharaan beras hasil riset dalam negeri yang dirancang untuk meningkatkan daya simpan stok tanpa bergantung pada teknologi asing dalam sistem logistik pangan nasional.

Teknologi tersebut diklaim mampu menjaga kondisi beras tetap sehat dengan kualitas yang stabil, sehingga mendukung pengelolaan cadangan pangan pemerintah untuk jangka panjang.

“Enggak usah pakai teknologi-teknologi dari luar. Teknologi orang Indonesia aja udah pintar-pintar. Nah ini syukur alhamdulillah dari Kepala BRIN kemarin menyampaikan ada teknologi baru untuk menjaga beras jadi lebih sehat, lebih kuat dan tahan lama,” beber Rizal.

Bulog, lanjut Rizal, akan menindaklanjuti kerja sama tersebut melalui pembahasan teknis lanjutan bersama BRIN agar teknologi yang dikembangkan dapat diterapkan secara efektif di seluruh fasilitas penyimpanan beras milik negara.

“Nanti kami tindaklanjuti ini dan diskusikan dengan Kepala BRIN untuk diterapkan di Bulog,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa Bulog berkomitmen menjaga mutu beras yang dikelola di seluruh wilayah Indonesia melalui sistem pengawasan berlapis yang dilakukan secara konsisten dan berkelanjutan.

Selama ini, Bulog menerapkan pola pemeliharaan beras secara bertingkat, mulai dari pemeriksaan harian, mingguan, bulanan, triwulanan, hingga evaluasi per semester untuk memastikan stok tetap aman dan layak konsumsi.

Rizal menjelaskan, setiap indikasi gangguan kualitas maupun serangan hama langsung ditangani dengan langkah cepat, termasuk fumigasi terukur, agar tidak meluas dan merusak stok lainnya di gudang.

“Sehingga indikasi-indikasi penyakit (beras berkutu) itu tidak menyebar ke yang lain,” ucap Rizal.

Upaya pemeliharaan tersebut menjadi salah satu prioritas utama Bulog untuk memastikan beras tetap sehat, kuat, dan tahan lama selama proses penyimpanan hingga distribusi ke berbagai daerah.

“Bulog itu selalu berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kualitas dari masing-masing produk beras,” kata Rizal.

Sebelumnya, isu beras berkutu di gudang Bulog sempat menjadi perhatian Komisi IV DPR RI. Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Soeharto atau Titiek Soeharto mengungkap temuan beras impor yang telah berkutu saat melakukan kunjungan kerja ke Yogyakarta.

Kunjungan tersebut dilakukan pada masa reses DPR beberapa waktu lalu. Titiek menyebutkan bahwa beras yang ditemukan berkutu merupakan stok impor dari tahun sebelumnya.

“Pada reses lalu, pada kunjungan kerja yang lalu, saya memimpin tim ke Yogya, dan kami meninjau Gudang Bulog. Di situ kami menemukan masih banyak beras sisa impor yang lalu di dalam Gudang Bulog yang sudah banyak kutu,” kata Titiek Soeharto dalam rapat kerja dengan Kementerian Pertanian, Selasa (11/3/2025).[prs]