DPR  

Santri di Lombok Tewas Diduga Dianiaya, Sari Yuliati Desak Aparat Usut Tuntas Tanpa Toleransi

Sari Yuliati
Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati/Net

Realitarakyat.com – Wakil Ketua DPR RI, Sari Yuliati, menyampaikan keprihatinan mendalam sekaligus duka cita yang sedalam-dalamnya atas peristiwa tragis yang menimpa tiga orang santri di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Ketiga santri tersebut diduga kuat menjadi korban tindak kekerasan brutal hingga menyebabkan satu orang di antaranya mengembuskan napas terakhir.

Insiden berdarah di lingkungan pendidikan keagamaan tersebut kini menjadi sorotan tajam karena telah menimbulkan luka psikologis yang mendalam bagi keluarga korban serta memicu keresahan di tengah masyarakat luas.

“Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Tidak ada alasan apa pun yang dapat membenarkan tindakan kekerasan yang menghilangkan nyawa seseorang, terlebih terhadap santri-santri yang sedang menuntut ilmu,” ujar Sari Yuliati dalam keterangan tertulisnya, Rabu (10/6).

Sebagai representasi wakil rakyat yang berangkat dari daerah pemilihan (dapil) Pulau Lombok, Sari Yuliati mendesak aparat penegak hukum untuk segera bergerak cepat mengusut tuntas kasus tersebut secara transparan dan akuntabel.

Ia meminta seluruh aktor yang terlibat, baik pelaku langsung maupun pihak yang abai, diseret untuk dimintai pertanggungjawaban di muka hukum.

“Saya meminta aparat penegak hukum untuk mengungkap kasus ini secara menyeluruh. Tidak boleh ada toleransi terhadap pelaku maupun pihak yang terbukti lalai sehingga peristiwa ini dapat terjadi. Keadilan harus ditegakkan dan keluarga korban berhak mendapatkannya,” tegas politisi senior dari Fraksi Partai Golkar tersebut.

Sari menambahkan bahwa kasus memilukan ini harus dijadikan momentum evaluasi serius bagi semua pemangku kebijakan agar lembaran hitam serupa tidak kembali terulang di masa depan.

Pembenahan radikal terhadap sistem pengawasan melekat serta penguatan instrumen perlindungan anak di lingkungan internal pesantren wajib dilakukan secara menyeluruh demi menjamin hak rasa aman bagi para santri.

Kendati mengutuk keras aksi kekerasan tersebut, Sari Yuliati secara objektif mengingatkan masyarakat luas agar tetap jernih dan tidak menggeneralisasi atau menyudutkan institusi pondok pesantren secara keseluruhan.

Ia menggarisbawahi bahwa hingga detik ini, mayoritas pondok pesantren di Indonesia masih menjalankan khitah fungsinya dengan sangat baik.

“Kita tidak boleh menghakimi seluruh pesantren hanya karena perbuatan segelintir oknum. Saya meyakini masih banyak pesantren di Lombok maupun di seluruh Indonesia yang menjadi tempat menuntut ilmu yang aman, membentuk karakter, akhlak, dan masa depan generasi muda bangsa,” kata Sari mengingatkan publik.

Sebagai ekor berita, Sari Yuliati mengajak seluruh elemen masyarakat, para pengelola lembaga kiai dan pesantren, tokoh agama, hingga jajaran pemerintah daerah untuk bergandengan tangan memperkuat barisan proteksi dini guna menangkal segala bentuk perundungan dan kekerasan di wilayah institusi pendidikan.

“Keselamatan dan perlindungan santri harus menjadi prioritas bersama. Tidak boleh ada ruang bagi kekerasan dalam bentuk apa pun di lingkungan pesantren. Anak-anak harus dapat belajar dan menuntut ilmu dengan rasa aman serta nyaman,” pungkas legislator asal NTB tersebut.[prs]